Bank Dunia memproyeksikan negara berkembang hanya tumbuh 3,6 persen pada 2026, lebih rendah dari proyeksi awal 4 persen sebelum perang.
Perlambatan ini mencerminkan kombinasi tekanan inflasi, mahalnya biaya pembiayaan, serta beban impor energi dan pangan yang meningkat.
Bagi banyak negara berkembang, situasi ini bisa menjadi ujian berat bagi stabilitas ekonomi dan fiskal.
Pasar Kini Waspadai Krisis Komoditas yang Lebih Luas
Proyeksi Bank Dunia menegaskan pasar kini tidak hanya melihat risiko pada minyak, tetapi pada krisis komoditas yang lebih luas.
Energi, pupuk, pangan, hingga logam industri bergerak dalam tekanan yang saling terhubung. Bila konflik Timur Tengah belum mereda, potensi guncangan lanjutan terhadap pasar global tetap terbuka.
Dengan harga energi diproyeksi melonjak 24 persen, pasar kini menilai perang Timur Tengah bukan sekadar konflik regional, tetapi ancaman besar bagi ekonomi dunia. (*)
- Bank Dunia
- dampak harga minyak brent terhadap ekonomi berkembang
- dampak perang timur tengah terhadap harga minyak dunia
- ekonomi negara berkembang
- Harga Energi Global
- harga minyak Brent
- harga pupuk naik
- harga pupuk naik picu ancaman pangan dunia
- inflasi 2026
- komoditas dunia
- krisis pangan global
- Perang Timur Tengah
- perang timur tengah dorong harga energi dan inflasi
- prediksi inflasi global akibat lonjakan harga energi
- proyeksi bank dunia harga energi naik 24 persen
- risiko krisis komoditas global tahun 2026
- Selat Hormuz
- selat hormuz ganggu pasokan energi global