Home Market Bank Dunia Alarm Bahaya! Harga Energi Diproyeksi Meledak 24 Persen, Inflasi dan Pangan Terancam Ikut Naik
Market

Bank Dunia Alarm Bahaya! Harga Energi Diproyeksi Meledak 24 Persen, Inflasi dan Pangan Terancam Ikut Naik

Bagikan
Bank Dunia proyeksikan harga energi naik 24 persen akibat perang Timur Tengah, memicu ancaman inflasi, lonjakan pangan, dan perlambatan ekonomi global.
Ilustrasi - Bank Dunia (dok.Global Financing Facility)
Bagikan

Pada perdagangan terbaru, kontrak Brent Juni bahkan sudah berada di kisaran US$109 per barel, memperlihatkan tekanan pasar belum mereda.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa harga energi global belum mencapai puncaknya.

Bank Dunia Ingatkan Efek Domino ke Inflasi dan Pangan

Bank Dunia menilai dampak perang tidak berhenti pada sektor energi. Guncangan terjadi berlapis, dimulai dari lonjakan harga minyak, berlanjut ke kenaikan biaya pangan, lalu menekan inflasi dan mendorong suku bunga lebih tinggi.

Efek berantai ini dinilai paling berat bagi negara berkembang dengan beban utang tinggi.

Inflasi di negara berkembang diperkirakan mencapai rata-rata 5,1 persen tahun ini, naik dari 4,7 persen tahun sebelumnya. Bahkan jika konflik berkepanjangan, inflasi berpotensi menembus 5,8 persen.

Kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat, menaikkan biaya logistik, sekaligus memperberat tekanan fiskal banyak negara.

Harga Pupuk Diprediksi Naik 31%, Ancaman Pangan Membesar

Selain energi, tekanan besar juga datang dari sektor pupuk. Bank Dunia memperkirakan harga pupuk naik 31 persen sepanjang 2026.

Pemicu utamanya berasal dari lonjakan sekitar 60 persen harga urea, salah satu pupuk nitrogen yang paling luas digunakan dan sangat bergantung pada gas alam.

Kenaikan biaya pupuk berisiko menekan produksi pertanian, mengurangi pendapatan petani, serta memperbesar ancaman gangguan pasokan pangan global.

Program Pangan Dunia bahkan memperkirakan tambahan 45 juta orang bisa menghadapi kerawanan pangan akut bila konflik berlangsung lebih lama.

Harga Pangan Bisa Jadi Gelombang Tekanan Berikutnya

Kenaikan harga energi dan pupuk sering kali berujung pada lonjakan biaya produksi pangan. Karena itu, pasar mulai mewaspadai bukan hanya krisis energi, tetapi juga potensi gelombang inflasi pangan global.

Jika tekanan ini berlanjut, negara importir pangan berpotensi menghadapi risiko lebih besar terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Pertumbuhan Ekonomi Negara Berkembang Terancam Melambat

Dampak lain yang tak kalah serius muncul pada prospek pertumbuhan.

Bagikan
Artikel Terkait
Ilustrasi pergerakan IHSG - Image by Gemini -
Market

IHSG Rebound ke 7.100, Saham Teknologi Ngegas! Ada 3 Rekomendasi Cuan Saat Asing Masih Kabur

Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup terkoreksi 0,48 persen ke level 7.072 dengan...

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membuka 2026 dengan kinerja yang mengejutkan pasar. Emiten tambang pelat merah itu membukukan laba bersih Rp3,4 triliun pada kuartal I-2026,
Market

ANTM Meledak di Kuartal I 2026, Laba Melonjak 176 Persen! Lonjakan Harga Nikel dan Emas Jadi Mesin Cuan

Volume bijih nikel juga relatif solid di 3,4 juta wmt pada kuartal...

GOTO cetak laba perdana Rp258 miliar pada kuartal I 2026, EBITDA tembus Rp907 miliar, fintech melesat dan buyback jadi sentimen baru.
Market

GOTO Cetak Sejarah! Laba Perdana Kuartalan Rp258 Miliar, EBITDA Tembus Rp907 Miliar dan Buyback Jadi Katalis Baru

Pada segmen mobilitas, GTV turun 12 persen secara kuartalan menjadi Rp5,7 triliun....

Ringkasan perdagangan pagi 29 April 2026: Wall Street melemah, IHSG oversold, minyak tembus US$110 dan saham pilihan jadi sorotan investor.
Market

Wall Street Terkoreksi, IHSG Oversold, Minyak Tembus US$110 dan Saham Pilihan Jadi Sorotan

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pasokan energi global terganggu lebih lama, terutama dengan...