Home Market ANTM Meledak di Kuartal I 2026, Laba Melonjak 176 Persen! Lonjakan Harga Nikel dan Emas Jadi Mesin Cuan
Market

ANTM Meledak di Kuartal I 2026, Laba Melonjak 176 Persen! Lonjakan Harga Nikel dan Emas Jadi Mesin Cuan

Bagikan
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membuka 2026 dengan kinerja yang mengejutkan pasar. Emiten tambang pelat merah itu membukukan laba bersih Rp3,4 triliun pada kuartal I-2026,
Ilustrasi - Gedung PT Antam [ANTM]
Bagikan

Volume bijih nikel juga relatif solid di 3,4 juta wmt pada kuartal pertama, naik tipis 2 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Kenaikan harga nikel premium ini berdampak besar terhadap margin. Margin EBIT segmen nikel tercatat meningkat ke sekitar 50 persen, jauh di atas 35 persen pada kuartal I-2025.

Sentimen positif juga datang dari feronikel. ASP FeNi naik ke US$13.500 per ton, tumbuh 12 persen secara kuartalan dan 11 persen tahunan.

Kondisi ini menunjukkan ANTM bukan hanya diuntungkan siklus harga komoditas, tetapi juga berhasil mengonversi momentum pasar menjadi pertumbuhan laba nyata.

Kontribusi Entitas Asosiasi Tambah Kekuatan Fundamental

Dari sisi pendapatan non-operasional, kontribusi entitas asosiasi juga meningkat signifikan.

Pendapatan asosiasi melonjak menjadi Rp205 miliar, naik drastis dibanding Rp52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Salah satu penopang datang dari kontribusi BAI, sementara Weda Bay Nickel hanya menyumbang sekitar 15-20 persen dari total pendapatan asosiasi.

Menariknya, tidak ada beban luar biasa besar yang menggerus laba, selain rugi kurs Rp80 miliar. Artinya, lonjakan laba bersih ini memang banyak ditopang faktor fundamental operasional, bukan keuntungan satu kali.

Valuasi Dinilai Masih Menarik, Saham ANTM Tetap Dijagokan

Meski kinerja kuartal pertama melampaui ekspektasi, proyeksi laba ANTM untuk 2026 dan 2027 sementara masih dipertahankan sambil menunggu detail lanjutan dari paparan kinerja perusahaan.

Namun prospek saham ini masih dinilai menarik. Rekomendasi beli tetap dipertahankan dengan target harga Rp4.850 per saham.

Valuasi ANTM juga disebut masih murah di kisaran 9 kali price to earnings FY26F, dengan potensi pertumbuhan EPS minimal 35 persen tahun ini.

Prospek itu membuat ANTM tetap masuk jajaran top pick di sektor pertambangan, terutama di tengah momentum harga komoditas yang masih kuat.

Risiko Tetap Ada, Tapi Momentum Masih Positif

Meski kinerja impresif, ada sejumlah risiko yang tetap dicermati pasar. Di antaranya potensi penjualan emas dan bijih nikel yang lebih rendah dari perkiraan, risiko eksekusi operasional, hingga potensi tekanan dari kuota RKAB yang dapat memengaruhi kontribusi Weda Bay Nickel.

Bagikan
Artikel Terkait
Ilustrasi pergerakan IHSG - Image by Gemini -
Market

IHSG Rebound ke 7.100, Saham Teknologi Ngegas! Ada 3 Rekomendasi Cuan Saat Asing Masih Kabur

Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup terkoreksi 0,48 persen ke level 7.072 dengan...

GOTO cetak laba perdana Rp258 miliar pada kuartal I 2026, EBITDA tembus Rp907 miliar, fintech melesat dan buyback jadi sentimen baru.
Market

GOTO Cetak Sejarah! Laba Perdana Kuartalan Rp258 Miliar, EBITDA Tembus Rp907 Miliar dan Buyback Jadi Katalis Baru

Pada segmen mobilitas, GTV turun 12 persen secara kuartalan menjadi Rp5,7 triliun....

Ringkasan perdagangan pagi 29 April 2026: Wall Street melemah, IHSG oversold, minyak tembus US$110 dan saham pilihan jadi sorotan investor.
Market

Wall Street Terkoreksi, IHSG Oversold, Minyak Tembus US$110 dan Saham Pilihan Jadi Sorotan

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pasokan energi global terganggu lebih lama, terutama dengan...

INPS kedatangan pengendali baru, sementara TLKM, MNCN, BSDE hingga SSMS diramaikan aksi beli dan divestasi jumbo investor besar.
Market

Pengendali Baru Kuasai INPS, Big Caps Diramaikan Aksi Borong dan Divestasi Jumbo

PT Paraga Artamida menambah 2,53 juta saham PT Bumi Serpong Damai Tbk...