Kalender Bagus
Kalau di sini, anak bayi malah dibiarkan diasuh oleh kakak tertuanya yang belum cukup umur. Kalau terjengkang dan keningnya berdarah, orang tuanya anteng aja. Sambil berujur, ‘biar merasakan sedikit nyerinya hidup. Saat besar nanti lebih sakit dari ini.”
Herry Isnurdono
Ada apa Abah DI, sedang bad mood atau sedang tidak enak badan. Nulis CDI hari ini, Senin 27 April 2026, singkat tidak padat dan tidak berisi. Ora niat, bhs Jawanya. Tapi bebas2 aja. Masih untung Abah DI mau nulis. Padahal Abah DI bisa cerita apa aja di Tiongkok saat ini. Rutinitas dari pagi hingga malam, sampai tidur. Atau Abah DI mulai capai. Capai pikiran ttg negara Indonesia. Mikirin kurs USD thd Rupiah. Harga BBM non Subsidi yg naik. Rencana pajak utk EV (Mobil Listrik). Abah DI pulang aja, balik ke Indonesia, kalau merasa capai fisik dan pikiran.
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
HELM PENGAMAN, SAYANG CUCU, ATAU PARANOIA? Zaman memang sudah berubah drastis. 1) Dulu, kepala kita membentur lantai tanah, paling-paling hanya benjol sedikit. Tanah itu empuk, ramah bagi tengkorak balita yang masih lunak. 2) Sekarang? Lantai granit dan keramik mengintai di setiap sudut rumah. Maka lahirlah helm lunak itu. Sebuah simbol kasih sayang yang luar biasa dari seorang nenek di Huai An untuk cucu tunggalnya. Begitulah potret Asia Timur: sangat protektif, nyaris paranoid. Satu anak, satu cucu, maka pengamanan harus selevel Paspampres. Namun, ada ironi di balik busa empuk helm itu. Pak Dahlan benar, proteksi berlebih sering kali mematikan insting. Anak tidak belajar soal risiko. Mereka kehilangan kesempatan mengenal rasa sakit yang sebenarnya adalah guru terbaik untuk menjaga keseimbangan. Kita di Indonesia mungkin lebih santai karena dijaga keroyokan oleh keluarga besar. Tapi jangan-jangan, kita justru terjebak pada pola asuh kolektif yang membuat kemandirian jadi barang mewah. Memang dilematis. Ingin hati menjaga kepala cucu tetap bulat sempurna, tapi jangan sampai jiwanya malah jadi lembek. ### ((Helm itu melindungi kepala, tapi ia tidak bisa melindungi anak dari “kerasnya realitas dunia” di luar lantai keramik rumah))..