finnews.id – Pernahkah kamu membayangkan dari mana datangnya dana triliunan rupiah yang membangun jalanan atau fasilitas publik di daerahmu? Jawabannya ada pada industri hulu minyak dan gas bumi (migas). Meski banyak orang mengira sektor ini hanya soal pengeboran energi, nyatanya industri hulu migas adalah mesin utama yang memutar roda ekonomi nasional dan daerah dengan kekuatan luar biasa.
Bukan sekadar angka di atas kertas, sektor strategis ini memberikan kontribusi nyata yang menembus angka ratusan triliun rupiah. Bagi kamu yang peduli dengan pertumbuhan ekonomi, memahami bagaimana “emas hitam” ini bekerja sebagai motor penggerak ekonomi berkelanjutan adalah kunci untuk melihat masa depan investasi dan pembangunan di Indonesia.
Setoran PNBP Migas Tembus Rp105,4 Triliun: Siapa yang Diuntungkan?
Data terbaru dari laporan Kementerian ESDM mencatat angka yang bikin melongo. Sepanjang tahun 2025 saja, realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor migas menyentuh angka Rp105,4 triliun. Angka fantastis ini masuk langsung ke kas negara untuk membiayai berbagai program prioritas nasional.
Namun, jangan salah sangka, manfaatnya tidak berhenti di tingkat pusat. Daerah penghasil pun kecipratan “durian runtuh”. Ambil contoh Provinsi Riau. Pada tahun 2023, wilayah ini menerima Dana Bagi Hasil (DBH) Migas sebesar Rp3,6 triliun dan PBB Migas mencapai Rp3,9 triliun. Belum lagi tambahan dari Participating Interest (PI) 10 persen yang melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Ini adalah bukti nyata bahwa aktivitas migas daerah penghasil memberikan suntikan dana yang masif.
Bukan Sekadar Pajak, Intip Multiplier Effect yang Menjalar ke Masyarakat
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina, Rinto Pudyantoro, menjelaskan bahwa kita tidak boleh hanya melihat industri ini dari sisi bagi hasil saja. Ada efek domino atau multiplier effect industri hulu migas yang seringkali tidak disadari masyarakat luas. Aktivitas operasional di Wilayah Kerja (WK) migas mendorong perputaran ekonomi lokal melalui belanja barang dan jasa.