Pasar kini menuntut suku bunga yang lebih tinggi secara keseluruhan. Hal ini otomatis meningkatkan beban biaya pinjaman bagi negara-negara yang sudah kesulitan keuangan. Di wilayah paling miskin seperti Yaman dan Somalia, di mana pangan mencakup hampir separuh dari total impor, situasi ini berubah menjadi krisis kemanusiaan yang sangat nyata. Lebih dari setengah populasi mereka sudah mengalami ketidakamanan pangan akut akibat guncangan pasar energi ini.

Bantuan Internasional Merosot di Saat Paling Dibutuhkan

Ironisnya, saat dunia sedang butuh uluran tangan, bantuan internasional justru mengalami penurunan drastis. Selassie menyebut penurunan bantuan ini bersifat “struktural”, bukan sementara. Dampak paling keras akan dirasakan oleh negara-negara berpendapatan rendah yang mengandalkan bantuan bukan sebagai tambahan, melainkan sebagai sumber utama pembiayaan anggaran kesehatan dan bantuan pangan bagi rakyat mereka.

Kondisi ini diperparah dengan rantai pasok global yang terganggu, membuat pengiriman barang ke pulau-pulau kecil di Pasifik memakan waktu lebih lama dan biaya lebih mahal. Krisis ini bukan lagi sekadar angka di atas kertas, tapi ujian nyata bagi kelangsungan hidup jutaan orang di seluruh dunia.

Apa Solusinya? IMF Beri Saran Tegas

Menghadapi situasi yang serba sulit ini, pejabat IMF berulang kali memberikan mantra yang sama sepanjang pekan: pemerintah harus mengadopsi langkah-langkah yang bersifat sementara dan terbatas. Tujuannya agar anggaran negara yang sudah tipis tidak semakin jebol. Jangan sampai kebijakan populis jangka pendek justru merusak fondasi ekonomi jangka panjang yang sedang berjuang melawan badai krisis energi dan pangan dunia. (*)