Blokade Laut dan Dampaknya pada Perdagangan Global
Meski ada sinyal diplomasi, blokade tetap berjalan ketat. Sejumlah kapal tanker, termasuk Rich Starry yang dikenai sanksi AS dan dimiliki oleh China, terpaksa berbalik arah menuju Selat Hormuz setelah keluar dari Teluk Persia.
Militer AS sebelumnya juga telah mencegat delapan kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran sejak awal blokade pada hari Senin, menurut laporan Wall Street Journal.
Konflik ini turut memicu gangguan besar pada jalur energi global. Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, salah satu jalur paling vital untuk distribusi minyak dan gas dunia. Dampaknya, pengiriman energi dari kawasan Teluk ke pasar Asia dan Eropa mengalami penurunan signifikan.
Pasar Global Mulai Bereaksi
Harapan terhadap solusi diplomatik mulai meredakan tekanan di pasar energi. Harga minyak acuan tercatat turun untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu.
Selain itu, pasar saham Asia menguat, sementara dolar AS sebagai aset aman menunjukkan stabilitas setelah sebelumnya melemah selama tujuh sesi beruntun.
Korban Konflik Terus Bertambah
Sejak konflik pecah pada 28 Februari, jumlah korban jiwa mencapai sekitar 5.000 orang. Dari total tersebut, sekitar 3.000 korban berasal dari Iran dan 2.000 lainnya dari Lebanon.
Situasi ini memperlihatkan bahwa meskipun jalur diplomasi mulai terbuka, dampak kemanusiaan dan ekonomi dari konflik masih sangat besar.