finnews.id – Situasi di Timur Tengah kembali memanas secara drastis. Hanya berselang beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, militer Israel justru melancarkan serangan udara masif ke wilayah Lebanon pada Rabu, 8 April 2026.
Tentara Israel mengklaim telah menghantam lebih dari 100 titik hanya dalam waktu singkat, yakni 10 menit.
Operasi militer terkoordinasi ini merupakan serangan “terbesar” sejak eskalasi konflik saat ini dimulai. Pihak militer menyatakan bahwa bombardir tersebut menyasar berbagai lokasi yang mereka duga terkait dengan Hizbullah di Beirut, Lembah Beqaa, hingga wilayah selatan negara tersebut.
Pihak tentara menuduh bahwa lokasi-lokasi yang menjadi target mencakup pusat komando dan kendali serta infrastruktur strategis lainnya.
“Lokasi yang ditargetkan termasuk pusat komando dan kendali serta infrastruktur lain yang digunakan untuk melancarkan serangan terhadap target Israel,” tulis pernyataan resmi militer. Hingga saat ini, pihak Hizbullah belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut.
Kontradiksi Gencatan Senjata di Lapangan
Serangan mematikan ini terjadi tepat setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada hari Selasa. Kesepakatan tersebut sebenarnya bertujuan membuka jalan bagi perdamaian permanen untuk mengakhiri perang yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu, yang telah memakan ribuan korban jiwa.
Namun, terjadi perbedaan pandangan yang tajam terkait cakupan gencatan senjata ini. Meskipun mediator dari Pakistan menyebutkan bahwa pakta perdamaian tersebut mencakup wilayah Lebanon, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menegaskan hal sebaliknya.
“Para mediator Pakistan mengatakan gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tidak,” lapor sumber di lapangan. Meski Israel terus menekan dengan serangan udara dan darat, sejauh ini pihak Hizbullah dilaporkan masih mematuhi ketentuan gencatan senjata tersebut.
Dampak Kemanusiaan dan Jatuhnya Korban Sipil
Tragedi ini membawa dampak memilukan bagi warga sipil. Media lokal melaporkan bahwa setidaknya delapan orang tewas dan 22 lainnya mengalami luka-luka akibat hantaman rudal di kota Sidon, Lebanon selatan, pada hari Rabu.
Kekerasan yang terus berulang ini menambah panjang daftar korban di Lebanon. Sejak konflik memanas pasca serangan lintas perbatasan pada awal Maret lalu, otoritas Lebanon mencatat kerugian manusia yang sangat besar. Berdasarkan data resmi, setidaknya 1.530 orang telah kehilangan nyawa dan 4.812 lainnya menderita luka-luka akibat gempuran pasukan Israel selama periode konflik ini.
Ketegangan ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas di perbatasan utara Israel dan Lebanon, meskipun upaya diplomasi internasional terus berlangsung di balik layar.