Kritik Tajam dari Oposisi dan Ancaman “Zaman Batu”
Ketidakpastian arah kebijakan Trump mendapat kritik pedas dari kalangan legislatif. Senator Demokrat, Chris Murphy, mempertanyakan apakah langkah pemerintah saat ini benar-benar bertujuan untuk meredam konflik atau justru memperkeruh suasana.
“Siapa pun yang menonton pidato itu tidak tahu apakah Trump meningkatkan atau mengurangi eskalasi perang dengan Iran. Tetapi jujur saja, dia sendiri pun tidak tahu,” tulis Murphy melalui akun X miliknya.
Di sisi lain, Trump tetap menggunakan retorika keras. Ia mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi sipil Iran jika kesepakatan negosiasi tidak segera tercapai. Padahal, serangan terhadap fasilitas sipil berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional.
“Selama dua hingga tiga minggu ke depan, kita akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada,” ancam Trump.
Diplomasi yang Buntu
Hingga saat ini, jalur diplomasi tampak menemui jalan buntu. Klaim Trump bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, tengah mengupayakan gencatan senjata segera dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Pihak Teheran justru menuduh Washington mengajukan tuntutan yang tidak rasional.
Meski sekutu Arab di Teluk mulai merasakan dampak serangan balasan dari Iran, Trump tetap sesumbar bahwa Amerika memegang kendali penuh atas situasi ini.
“Kita memiliki semua kartu. Mereka tidak memiliki satu pun,” pungkasnya dengan analogi properti andalannya. Ia juga mendesak sekutu Eropa untuk lebih berani menjaga jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz daripada hanya bergantung pada bantuan Amerika.