Catatan Dahlan Iskan

Iri Masyaallah

Bagikan
Saat saya di Yaman itu rupanya lagi musim kawin. Di semua negara Arab. Khususnya di Hadramaut, salah satu provinsi di Yaman. Yang kawin adalah kurma. Saya baru tahu itu ketika makan kambing bakar di Wadi Doan. Kambing bakar mathba --hanya ada di Wadi Doan. Itu sesuai dengan rekomendasi sahabat saya Kholid Bawazier, pengusaha besar dari Ampel Surabaya.
Bagikan

Kami mampir salat duhur-asar di salah satu masjid di celah itu. Air tidak masalah di situ. Air wudu maupun untuk mandi. Berlimpah. Di depan masjid itu ada kubah-kubah. Ternyata itu makam Habib Ali bin Hasan Al Atas –kakek Habib Abdurrahman Alatas Tebet, Jakarta, yang wafat empat bulan lalu.

Saya juga diajak mampir rumah orang terkaya di Wadi Duan. Meski empat lantai tetap tidak tampak dari jalan raya utama. Pintu utamanya sangat kokoh. Di pintu itu ada dua alat ketok. Beda bunyi. Kalau yang atas yang diketokkan berarti tamunya laki-laki. Kalau alat ketok bawah yang diketokkan tamunya perempuan (lihat foto).

Banyak tokoh terkenal dari Wadi Doan ini. Pemilik bank Al Ahli di Saudi berasal dari sini. Konglomerat Saudi, Bin Laden, dari Wadi Doan. Pengusaha Saudi yang membangun vila di tebing celah tadi juga orang sini.

Saya iri kepada mereka yang punya waktu tiga hari tinggal di villa itu. Lalu saya buru-buru berucap masya-allah –agar rasa iri itu pergi.

Di Yaman saya melihat begitu banyak tulisan masya-allah. Di pintu pintu. Di pagar. Di kaca mobil.

Pemandangan yang sama pernah saya lihat di Pakistan. Waktu itu saya bertanya ke orang Pakistan: mengapa begitu banyak tulisan masya-allah. Tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Hanya kebiasaan saja, katanya.

Di Yaman saya menemukan jawabnya: mengucapkan masya-allah bisa menghilangkan rasa iri yang mulai berusaha muncul di hati. (Dahlan Iskan)

Bagikan
Written by
Ari Nur Cahyo

Penulis di FIN Corp sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.

Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Rumah Pala

  Kami terus memasuki kebun pala lebih ke dalam. Ini lagi musim...

Catatan Dahlan Iskan

New Rhun

Kalau sedang tidak musim pala –pohon pala berbuah tiga kali setahun– mereka...

Catatan Dahlan Iskan

Lu Biau

  Nama lengkapnya dulu: 卢比奥 (Lú bǐ ào). Namanya sekarang menjadi: 鲁比奥...

Catatan Dahlan Iskan

Tuntutan Tinggi

Lalu saya pun mengontak mas Agus: “Kok yang Mas Agus tulis itu...