Sebenarnya, krisis minyak ini bukan pertama kali melanda AS.
Tahun 1973, krisis minyak juga melanda AS usai mendapat embargo oleh negara-negara Arab anggota OPEC karena mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur.
Namun, krisis 1979 berdampak jauh lebih besar karena berlangsung sekitar delapan bulan.
Sejumlah negara bagian menerapkan kebijakan masing-masing. Mulai dari sistem ganjil-genap untuk pembelian bensin hingga pembatasan kecepatan kendaraan guna menghemat energi.
Menurut situs History, Presiden Jimmy Carter bahkan menyebut situasi itu sebagai krisis nasional dan menyerukan masyarakat untuk menekan konsumsi energi.
Presiden Carter juga mendorong penggunaan energi alternatif, seperti pemasangan panel surya dan pemanfaatan kayu bakar sebagai pengganti minyak di sistem penghangat ruangan.
Sejak saat itu, sebagian warga AS mengikuti seruan tersebut termasuk beralih menggunakan kayu bakar.
Terbukti, menurut situs For Green Heat, angka penjualan tungku kayu dan kayu bakar sebagai pemanas mengalami peningkatan di tahun 1979 dengan nilai jutaan dollar.
Akhirnya krisis mereda ketika AS mendapat minyak dari negara-negara lain, seperti Venezuela dan Mexico, dan memperoleh sumber minyak baru di Alaska.
Berkat kejadian ini, AS menjadi lebih serius memperkuat cadangan strategis energi dan mengurangi ketergantungan pada minyak impor.
Terlebih, usai memutuskan menghentikan total impor minyak dari Iran pada akhir 1979 karena situasi yang kian memburuk.
Kini, setiap ketegangan di sekitar Selat Hormuz selalu membangkitkan bayang-bayang buruk atas ‘kiamat’ minyak di AS tahun 1979.