Home Lifestyle Open BO jadi Momok Generasi Muda: Aib, Tren atau Krisis Moral?
Lifestyle

Open BO jadi Momok Generasi Muda: Aib, Tren atau Krisis Moral?

fenomena open BO

Bagikan
fenomena open BO
Bagikan

finnews.id – Fenomena open BO menjadi momok menakutkan di jaman sekarang.
Terutama terjadi di kalangan anak muda yang makin memprihatinkan.

Dulu, mungkin praktik ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi juga dianggap sebagai aib sosial.
Tapi, sekarang sebagian pelakunya justru tampil terbuka di media sosial tanpa rasa sungkan.

Perubahan ini menandakan pergeseran nilai di tengah masyarakat, terutama di era digital yang semua serba instan.
Kemudahan akses dari platform daring, beserta maraknya aplikasi percakapan dan media sosial makin mempercepat normalisasi praktik ini.

Istilah open BO bahkan bukan lagi sebagai hal asing di ruang obrolan anak muda.
Beberapa dari mereka bahkan ada yang menganggapnya sebagai pilihan personal, gaya hidup, atau bahkan strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan gaya hidup yang tinggi.

Pendapat Pakar

Menurut Psikolog Rose Mini Agoes Salim, M.Psi atau yang akrab disapa Bunda Romi melihat fenomena Open BO ini disebabkan oleh faktor dan internal individu.

Faktor eksternalnya adanya sosial pelaku yang sama-=sama melakukan hal tersebut ataupun gaya hidup yang menuntut mereka untuk melakukan hal-hal tersebut demi memenuhi gaya hidupnya.

Faktor internalnya, umumnya anak remaja yang menjadi pelaku Open BO ini dipengaruhi oleh moral.
Mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

“Jadi ketika (Open BO) sesuatu aib, itu dianggap sebagai sesuatu yang baik dan benar, ditambah lagi pembenaran dari lingkungan. Yang penting dapet apa yang dibutuhkan, bisa uang, validasi atau hal lain. Sehingga itu yang membuat mereka berani melakukan hal tersebut,” – ungkap Bunda Romi kepada media.

Bunda Romi juga menjelaskan, seharusnya moral ditanamkan sejak usia dini di mana kemampuan manusia untuk menstimulus moral agar mengetahui hal baik dan buruk.
Menurutnya moral tidak bisa tumbuh kalau tidak distimulasi.

Ada beberapa hal penting untuk menstimulasi moral, antara lain:
– Empati
– Kontrol diri
– Nurani
– Kindness
– Fairness
– Respect
– Toleransi

Minimnya moral yang dimiliki oleh pelaku Open BO, menyebabkan adanya pergeseran dalam hal melihat sudut pandang.
Karena mereka tidak tahu hal tersebut sebetulnya tidak apa dan tidak masalah, padahal bisa bermasalah di masa depan.

Sedangkan media sosial juga memiliki dampak yang besar terkait hal tersebut.
Media sosial menormalisasikan hal seperti itu agar para pelaku merasa dilihat oleh pelanggannya, sehingga mereka meletakkan self esteem, harga diri dan konsep dirinya yang salah.

Jadi dia melihat bahwa dia dihargai kalau dia banyak yang membooking dia.

Lebih lanjut Romi mengatakan bahwa manusia sejatinya tidak boleh menggantungkan dirinya pada self esteem seperti itu.
Tapi harus melihat potensi dalam dirinya sendiri.

Bagikan
Artikel Terkait
Lifestyle

10 Ide Jualan Makanan Paling Laris 2026: Modal Kecil, Untung Besar, dan Cepat Balik Modal

finnews.id – Memulai bisnis kuliner menjadi pilihan strategis bagi banyak orang yang...

Lifestyle

Solusi Nyeri dan Memar, PT Tunggal Idaman Abdi Rilis Thrombovoren Emulgel

finnews.id – Tren gaya hidup aktif kini tengah menjamur di Indonesia. Semakin...

Tanaman Hias Lidah Mertua (rri)
Lifestyle

Jenis Tanaman Hias Multi Fungsi Terbaik untuk Kesehatan dan Dekorasi Rumah

finnews.id – Di tengah gaya hidup modern yang membuat kita lebih sering berada...

The Palace Jeweler gelar Semarak Pengundian Nasional 2026! Borong perhiasan emas & berlian, menangkan motor Yamaha dan hadiah mewah lainnya di 83 gerai.
Lifestyle

Banjir Hadiah! Semarak Pengundian Nasional The Palace 2026 Dimulai, Saatnya Borong Berlian dan Bawa Pulang Motor

finnews.id – Pernahkah Anda membayangkan belanja perhiasan mewah tapi malah pulang membawa...