Namun, kesepakatan ini tidak tanpa kontroversi. Partai demokrat mengkritik karena tidak memenuhi tuntutan utama mereka, yaitu perpanjangan kredit pajak program Affordable Care Act (ACA) yang akan berakhir pada Desember 2025. Subsidi tersebut digunakan oleh lebih dari 20 juta warga amerika untuk menekan biaya asuransi kesehatan, dan ketidakpastiannya menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan premi. Sebagai konsekuensi, senat republik telah berjanji untuk mengadakan pemungutan suara mengenai perpanjangan subsidi tersebut pada bulan Desember, meskipun pemimpin DPR Mike Johnson belum memberikan janji serupa.
Di sisi lain, kepemimpinan republik di DPR menyatakan bahwa shutdown ini disebabkan oleh keengganan demokrat untuk bernegosiasi, dan mengklaim bahwa kesepakatan ini merupakan kemenangan bagi pihak republik. Mereka menuduh demokrat bertanggung jawab atas kesulitan yang dialami oleh jutaan keluarga amerika, mulai dari kelaparan hingga penundaan penerbangan akibat kekurangan tenaga kerja di bidang lalu lintas udara.
Pada hari Rabu (12 November 2025), DPR akhirnya mengesahkan kesepakatan tersebut dengan suara 222-209, dengan sebagian kecil senator demokrat yang melanggar kepemimpinan partai untuk mendukungnya. Beberapa jam kemudian, Presiden Trump menandatangani undang-undang tersebut di ruang oval Gedung Putih, mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah AS yang telah berlangsung selama 43 hari.
“Ini bukan cara untuk menjalankan sebuah negara. Saya berharap kita semua sepakat bahwa pemerintah tidak boleh pernah ditutup lagi,” ujar Trump saat menandatangani undang-undang. Dengan penandatanganan tersebut, para pekerja federal yang menganggur dapat kembali bekerja mulai hari Kamis, dan layanan publik yang krusial mulai kembali beroperasi secara normal. Namun, tantangan masih tetap ada, karena kongres hanya memiliki waktu hingga Januari mendatang untuk menyelesaikan negosiasi pengeluaran dan menghindari terjadinya shutdown lagi.