finnews.id – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian telah memerintahkan dimulainya pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat, menurut laporan media lokal, Senin, 2 Februari 2026.
Perubahan sikap Iran ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump berharap tercapainya kesepakatan untuk mencegah aksi militer terhadap republik Islam tersebut.
“Presiden Pezeshkian telah memerintahkan pembukaan pembicaraan dengan AS,” lapor kantor berita Fars, mengutip sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya.
“Iran dan AS akan mengadakan pembicaraan tentang masalah nuklir,” kata Fars. Laporan tersebut juga dimuat oleh surat kabar pemerintah Iran dan harian reformis Shargh.
Pemerintah Iran sendiri mengaku sedang mengerjakan metode dan kerangka kerja untuk negosiasi yang akan siap dalam beberapa hari mendatang, dengan pesan antara kedua pihak disampaikan melalui para pemain regional.
“Beberapa poin telah dibahas, dan kami sedang memeriksa dan menyelesaikan detail setiap tahap dalam proses diplomatik, yang kami harapkan akan selesai dalam beberapa hari mendatang,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei.
Trump Terus Tekan Iran
Menyusul respons mematikan otoritas Iran terhadap protes anti-pemerintah yang memuncak bulan lalu, Trump telah mengancam aksi militer dan memerintahkan pengiriman kelompok kapal induk ke Timur Tengah.
Sambil terus menekan Iran, Trump tetap berharap dapat mencapai kesepakatan, dan Teheran juga bersikeras menginginkan diplomasi sambil berjanji akan memberikan respons tanpa batas terhadap agresi apa pun.
Trump telah memperingatkan “waktu hampir habis” bagi Iran untuk mencapai kesepakatan tentang program nuklirnya, yang diyakini Barat bertujuan untuk membuat bom atom.
Namun Baqaei mengatakan Teheran “tidak pernah menerima ultimatum” dan bahwa ia tidak dapat mengkonfirmasi pesan semacam itu telah diterima.