finnews.id – Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, kehadiran kawasan wisata dan hunian yang dijuluki “Kota Belanda di PIK” ramai dibicarakan warganet karena menghadirkan nuansa Eropa, khususnya Amsterdam, di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Dengan deretan bangunan bergaya klasik, kanal air, hingga jembatan ikonik, kawasan ini menjadi destinasi baru yang menarik minat wisatawan lokal maupun pencinta fotografi.
Nuansa Amsterdam di Tengah Jakarta
Kota Belanda di PIK dirancang dengan konsep arsitektur Eropa klasik. Bangunan-bangunan berwarna cerah dengan jendela besar, atap tinggi, serta ornamen khas Belanda membuat pengunjung seolah berada di luar negeri.
Tak hanya sekadar tampilan visual, kawasan ini juga dilengkapi kanal air yang menyerupai sungai-sungai di Amsterdam, lengkap dengan jalur pedestrian dan jembatan lengkung yang estetik.
Jadi Spot Favorit Wisata dan Konten Media Sosial
Sejak dibuka untuk umum, Kota Belanda di PIK langsung menjadi spot favorit berburu foto dan video. Media sosial dipenuhi unggahan yang memperlihatkan suasana Eropa tanpa harus keluar negeri.
Banyak pengunjung memanfaatkan lokasi ini untuk:
- Foto prewedding
- Konten TikTok dan Instagram
- Jalan santai sore hari
- Nongkrong di kafe dan restoran bergaya Eropa
Tak heran jika kawasan ini kerap disebut sebagai salah satu destinasi Instagramable terbaru di Jakarta Utara.

Tak Hanya Wisata, Juga Kawasan Kuliner dan Hunian
Selain sebagai tempat wisata, Kota Belanda di PIK juga dikembangkan sebagai kawasan multifungsi. Beragam restoran, kafe, dan tenant kuliner hadir dengan konsep internasional, menambah daya tarik bagi pengunjung.
Di sisi lain, kawasan ini juga dirancang sebagai area hunian dan komersial modern, menyasar kalangan menengah ke atas yang menginginkan lingkungan unik dengan sentuhan Eropa.
Pro dan Kontra di Tengah Antusiasme Publik
Meski mendapat sambutan positif, keberadaan Kota Belanda di PIK juga memicu perbincangan pro dan kontra. Sebagian masyarakat mengapresiasi inovasi konsep wisata modern, namun ada pula yang menyoroti isu lingkungan, akses publik, hingga kesenjangan sosial.