Finnews.id – Iran memasuki babak baru dalam sejarah politiknya setelah Mojtaba Khamenei secara resmi diumumkan sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Keputusan ini diumumkan oleh lembaga ulama Iran pada Minggu, 8 Maret 2026, melalui pemungutan suara mayoritas dari anggota Majelis Ahli, lembaga yang berwenang menentukan pemimpin tertinggi negara tersebut.
Dalam pernyataan resminya, lembaga tersebut menyebut:
“Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran melalui dukungan penuh dari para anggota Majelis Ahli.”
Penunjukan ini terjadi tidak lama setelah kematian Ali Khamenei, pemimpin sebelumnya sekaligus ayah Mojtaba, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Peristiwa tersebut langsung memicu ketegangan geopolitik baru di kawasan Timur Tengah.
Keputusan Iran menunjuk Mojtaba Khamenei tidak diterima dengan baik oleh pemerintah Amerika Serikat.
Presiden AS saat itu, Donald Trump, secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap suksesi tersebut.
“Putra Khamenei tidak bisa saya terima,” ujar Trump dalam pernyataan yang memicu polemik internasional.
Trump bahkan memperingatkan bahwa jika Iran tetap menunjuk pemimpin tanpa persetujuan pihaknya, maka pemerintahan tersebut tidak akan bertahan lama.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa perubahan kepemimpinan di Iran berpotensi memperburuk hubungan antara Teheran dan Washington.
Mojtaba Khamenei, Pemimpin yang Jarang Terlihat Publik
Di dalam negeri, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang sangat tertutup dan penuh misteri.
Berbeda dengan banyak tokoh politik Iran lainnya, ia hampir tidak pernah muncul dalam forum publik besar.
Beberapa hal yang membuatnya dianggap misterius antara lain:
- jarang memberikan pidato atau ceramah publik
- tidak aktif tampil di media
- jarang menghadiri acara kenegaraan secara terbuka
Meski begitu, posisinya sebagai putra Ali Khamenei membuat banyak analis politik telah lama memprediksi ia berpotensi menjadi penerus kepemimpinan Iran.
Kenaikan Mojtaba juga dianggap sebagai tanda bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali kuat dalam politik Iran.
Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa pemerintah Iran kemungkinan tidak akan melunak dalam kebijakan luar negeri dalam waktu dekat.
Salah satu faktor utama yang memperkuat posisi Mojtaba adalah kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu institusi militer paling berpengaruh di Iran.
Hubungan ini tidak terbentuk secara instan. Mojtaba diketahui telah menjalin jaringan kuat sejak masa mudanya.
Ketika Perang Iran–Irak berlangsung pada dekade 1980-an, ia bergabung dengan Batalyon Habib, sebuah unit yang mempertemukannya dengan banyak tokoh militer yang kemudian menjadi pemimpin penting di Iran.
Hubungan lama tersebut membuatnya memiliki jaringan strategis di kalangan militer dan intelijen, yang kini menjadi basis kekuatan politiknya.
Selain memiliki dukungan militer kuat, perjalanan Mojtaba juga tidak lepas dari kontroversi.
Selama hampir dua dekade terakhir, beberapa lawan politik menuduhnya terlibat dalam berbagai tindakan represif terhadap demonstrasi masyarakat.
Beberapa peristiwa yang sering dikaitkan dengan namanya antara lain:
Gerakan protes besar yang muncul setelah pemilu Iran tahun 2009 memicu gelombang demonstrasi nasional.
Mojtaba dituduh oleh para kritikus ikut mempengaruhi hasil pemilu serta menggunakan kelompok paramiliter Basij untuk menekan demonstran.
Pada Januari 2026, Iran kembali dilanda aksi demonstrasi besar.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ribuan orang dilaporkan meninggal dunia dalam bentrokan selama aksi tersebut.
Kelompok paramiliter Basij kembali disebut sebagai aktor utama dalam tindakan keras terhadap demonstran.
Namun hingga saat ini, Mojtaba Khamenei maupun pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut.
Arti Kepemimpinan Mojtaba Bagi Masa Depan Iran
Naiknya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran diperkirakan akan membawa dampak besar bagi politik domestik maupun hubungan internasional negara tersebut.
Beberapa pengamat menilai bahwa kepemimpinannya dapat:
- memperkuat dominasi kelompok garis keras di Iran
- mempererat hubungan antara pemerintah dan militer
- memperpanjang ketegangan dengan negara Barat
Namun di sisi lain, banyak pihak juga menilai masa depan Iran di bawah kepemimpinannya masih penuh tanda tanya.
Karena hingga kini, sosok Mojtaba Khamenei masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya terungkap kepada publik dunia.