Gregorius Indiarto
Kalau semua negara seperti Iran (berani/mandiri), mungkin tidak ada cerita “Venezuela”. Tidak ada dominasi “Paman” Tidak seperti saat ini, banyak negara jadi “keponakan’ si “Paman”, semua ponakan tunduk pada si paman. Semoga cerita Venezuela tidak berjilid. Met pagi, salam sehat, damai dan bahagia.
Muh Nursalim
Bisa melumpuhkan starlink. Itu berati ilmuwan Iran sangat hebat. Itu terjadi krn pendidikan filsafat d kampus2 Iran sangat kuat. Secara epistemik teknologi hanya bagian ranting dari ilmu. Maka segala tekonologi di kampus2 Iran amatlah maju. Termasuk dlm kesehatan dan pertanian. Kalau senjata nda usah diragukan. Perang 12 hari vs israel sudah cukup membuktikan. Betapa pilihan pengembangan rudal menjadi strategis drpada pesawat tempur. Di Sragen ada sekolah SMA yg fokus ke sains dengan pengajaran filsafat yg juga kuat. Yaitu Trensains. Penggasnya prof Gus Pur. Pakar fisika dr ITS. Pendalaman filsafat sebelum belajar teknik menjadi penting. Sehingga teknologi tdk menjadi liar dan memakan penemunya.
Liam Then
Antara 3 , Venezuela, Iran, Saudi. Sama-sama banyak minyak, kenapa nasibnya laen? Venezuela, Iran dan Saudi, sama-sama punya pemimpin awet dalam durasi cukup lama, kenapa nasibnya bisa beda? Venezuela, Iran dan Saudi ,punya sejarah nasionalisasi minyak yang sama. Kenapa nasibnya bisa beda? Mungkin yang bikin beda, adalah cara pemimpinnya menasionalisasi minyak mereka. Venezula dan Iran pakai cara keras, sedangkan Saudi pakai cara yang berbeda. Uniknya, cara Saudi, ditiru oleh RI, dalam upaya mengambil alih Freeport. Dalam olahraga ada yang namanya peraturan. Dalam hubungan dagang dan perjanjian antar negara, ada yang namanya kesepakatan. Jika satu pihak lebih kuat, yang kuat bisa kapan saja, pindah dari kesepakatan dengan inisiasi sendiri, tanpa perlu persetujuan pihak lain , dengan resiko minim. Jika kondisi berbalik, tentu ada resiko yang harus ditanggung, hasilnya cuma antara dua, antara mampu bertahan, tapi banyak masalah. Satunya lagi, mampu bertahan dan keluar dari masalah, kemudian berubah maju. Rusia dan Tiongkok, dua yang tergolong mampu bertahan dan keluar dari masalah. Tiongkok era Mao Zedong dulu, juga mengalami embargo, malah katanya lebih parah dari yang dialami oleh Uni Soviet, dan itu berlangsung dalam kurun waktu cukup lama 1950-1972. Uni Soviet runtuh, menyisa Russia, yang kemudian bersama Tiongkok berhasil bangkit. Yang perlu dicermati, adalah kecirian bagaimana Tiongkok dan Rusia bangkit. Mereka bangkit tidak dengan cara frontal.