Catatan Dahlan Iskan

Omon Kenyataan

Bagikan
omon kenyataan
Zohran Mamdani saat mengumumkan kebijakan barunya, kali ini soal ojek online di New York.--
Bagikan

Nama Su sudah sangat terkenal di Amerika. Dia pernah menjabat wakil menteri tenaga kerja di kabinet Joe Biden. Lalu pernah menjadi pejabat sementara menteri perdagangan.

Su ini unik. Meski pernah jadi menteri dia bersedia diminta Mamdani untuk menjadi kepala dinas di pemerintah kota.

Su tidak melihat jabatan dari segi gengsinya. Juga bukan karena fasilitasnya. Su ingin berjuang untuk keadilan ekonomi di Amerika –setidaknya di New York.

Yang akan dia perangi misalnya: junk fee. Ini istilah baru bagi saya. Selama ini pengusaha apa saja sering memungut biaya di pengetahuan konsumen. Misalnya hotel, restoran, penerbangan, dan menjadi pelanggan apa pun. Bagi konsumen yang teliti pun mereka mati kutu. Sudah mempersoalkannya pun tetap harus membayar. Apalagi banyak yang tidak mau mempersoalkan. Langsung bayar tanpa diteliti.

Demikian juga untuk berlangganan sesuatu. Setelah jadi pelanggan tidak bisa minta berhenti. Setidaknya dipersulit. Termasuk pakai cara membayar cancel fee.

Semua itu di mata Mamdani adalah junk fee. Harus diberantas.

Melihat kiprah Mamdani saya jadi pengin ke New York lagi. Ingin tahu kenyataannya. Mungkin lebih baik enam bulan lagi. Ia melaksanakan semua itu atau hanya omon-omon.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 17 Januari 2026: Anomali Iran

Sugi

Saya suka dengan kalimat yang prinsipnya bahwa hegemoni global (baca AS dan sekutu) tidak akan mempengaruhi spirit nasionalisme bangsa Iran. Iran sudah membuktikannya. Mestinya tidak hanya Iran, bangsa mana pun bisa, termasuk Indonesia. Namun lewat tulisan ini, apakah Abah hendak mengonfirmasi bahwa internal bangsa Iran sendiri sedang dalam keadaan genting dan akan runtuh/chaos? Apakah ini berarti Iran akan menyerah pada tekanan global? Semoga ada kabar lebih lanjut. Sehat selalu untuk Abah dan Kiai Muhsin.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

IRAN BEDA KELAS AMA VENEZUELA: APA YANG BEDA? Iran dan Venezuela sering disatukan dalam satu kalimat: sama-sama dibenci Amerika. Tapi kelasnya beda. Venezuela itu negara minyak yang negaranya sendiri kalah cepat dari skenario penangkapan presidennya. Iran itu negara ideologi yang dari awal sudah hidup dalam mode darurat. Iran diblokade puluhan tahun, tapi negara masih jalan. Pabrik jalan. Universitas hidup. Rudal dibuat sendiri. Bahkan bisa mematikan Starlink. Itu bukan cuma soal teknologi. Itu soal kesiapan negara. Venezuela? Ekonomi runtuh duluan. Elite bingung. Tentara kaget. Sekutu bengong. Iran kebalikannya. Rakyatnya sudah lama hidup tanpa ilusi globalisasi. Jadi tidak kaget kalau internet mati. Amerika bisa bikin gaduh. Bisa bikin panas. Tapi merobohkan Iran bukan urusan semalam. Ini bukan negara yang menunggu belas kasihan. Ini negara yang sejak lahir sudah siap dipukul. Makanya “Iran itu anomali”. Tidak tunduk pada logika Barat. Tidak runtuh oleh sanksi. Tidak panik oleh ancaman. Singkatnya: Venezuela bisa dijatuhkan dengan operasi. Iran harus dihadapi dengan sejarah. Dan sejarah itu keras kepala.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
Potret aksi demonstrasi di Iran yang sempat beredar di media sosial sebelum adanya pembatasan akses internet.
Catatan Dahlan Iskan

Anomali Iran

Lalu apalah artinya Iran: apalagi setelah nuklirnya dilumpuhkan Amerika dalam satu serangan...

Catatan Dahlan Iskan

Asta Cashtry      

Tentu malam harinya saya langsung membaca buku Cashtry. Isinya serius: mulai dari...

Catatan Dahlan Iskan

Rafael Zainal  

Konstitusi anti alkohol sendiri hanya berlaku selama 13 tahun. Di tahun 1933...

Catatan Dahlan Iskan

Amang Tabung

Embrio selebihnya jangan dibuang. Prof Amang bisa menyimpannya. Kapan saja, bila diperlukan,...