finnews.id – Mengintip daftar 5 negara paling damai di dunia terasa relevan ketika dunia sedang menghadapi lonjakan konflik. Tahun 2025 ditandai meningkatnya peperangan antarnegara, pengetatan perbatasan dan situasi ekonomi yang penuh tekanan.
Laporan Global Peace Index (GPI) 2025 yang dibuat Institute for Economics & Peace menunjukkan jumlah konflik berbasis negara mencapai tingkat tertinggi sejak Perang Dunia Kedua.
Kemunculan tiga konflik baru pada tahun ini turut menambah kompleksitas kondisi global. Banyak pemerintah kemudian meningkatkan anggaran militer dan memperketat keamanan.
Namun, beberapa negara tetap menunjukkan stabilitas luar biasa dan mempertahankan reputasi sebagai wilayah paling damai.
Lima negara teratas GPI 2025 memperlihatkan bagaimana kebijakan, budaya dan kualitas hidup warganya mampu menciptakan ketenangan meskipun dunia semakin bergejolak.
Islandia
Posisi pertama selama lebih dari satu dekade kembali ditempati Islandia. Peringkat ini dipertahankan melalui skor terbaik pada aspek keamanan, konflik dan demiliterisasi.
Bahkan terjadi peningkatan sekitar 2% pada tahun ini sehingga jaraknya dengan posisi kedua semakin lebar. Rasa aman yang dirasakan penduduk terwujud melalui kehidupan sehari-hari yang santai dan saling percaya.
Warga dapat berjalan sendirian pada malam hari tanpa rasa cemas, bayi sering terlihat tidur di kereta dorong di luar kafe sementara orang tua makan dengan tenang dan polisi tidak membawa senjata api.
Kondisi sosial yang nyaman ikut didorong program kesetaraan gender yang kuat sehingga perempuan merasa lebih aman dan dihargai.
Pengunjung biasanya memaknai ketenangan Islandia lewat aktivitas sederhana seperti mandi di kolam geotermal, berbincang dengan warga lokal atau menyusuri pegunungan dekat Reykjavik.
Kehidupan seni dan budaya yang berkembang ikut memperkuat karakter damai negara kecil ini.
Irlandia
Meski pernah diwarnai konflik pada abad ke-20, Irlandia berhasil membangun identitas baru sebagai negara yang memprioritaskan perdamaian.
Skor GPI menunjukkan penurunan militarisasi dan tingkat sangat rendah untuk konflik domestik maupun internasional. Persepsi masyarakat terhadap kejahatan juga rendah sehingga rasa aman lebih mudah dirasakan.
Warga menggambarkan Irlandia sebagai tempat yang ramah dan komunal, dengan budaya saling membantu bahkan kepada orang asing.
Kebijakan netralitas militer yang sudah berlangsung lama membuat negara ini tidak tergabung dalam aliansi seperti Nato, sehingga diplomasi lebih sering digunakan untuk meredakan tensi.
Lanskap alam, desa tradisional, musik khas pub dan ruang hijau membuat ritme hidup terasa lebih lambat. Para tamu sering terkejut dengan keramahan penduduk lokal, namun bagi warga, sikap tersebut dianggap bagian dari identitas budaya yang menekankan hubungan antarmanusia.
Selandia Baru
Peringkat tiga ditempati Selandia Baru yang mengalami peningkatan stabilitas keamanan pada tahun ini. Demonstrasi menurun, risiko terorisme rendah dan masyarakat menikmati perlindungan dari letak geografis negara kepulauan.
Kebijakan kontrol senjata yang ketat dianggap berperan besar dalam menciptakan rasa aman. Banyak keluarga membiarkan pintu rumah tidak terkunci, anak berjalan kaki ke sekolah dan pengendara berhenti membantu orang yang mengalami masalah di jalan.
Kepercayaan pada sistem sosial menciptakan rasa keberpihakan antarsesama. Selain itu, warga punya kedekatan kuat dengan alam, mulai dari pantai sampai jalur pegunungan. Banyak acara komunitas berlangsung sepanjang tahun dengan suasana inklusif.
Pengunjung biasanya terkesan bukan hanya oleh pemandangan, tetapi juga oleh masyarakat yang tulus dan budaya Māori yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Austria
Walau turun ke posisi empat, Austria tetap dipandang sebagai salah satu negara paling damai. Kebijakan kenetralan yang diatur konstitusi membuat negara ini tidak bersekutu secara militer. Semua sumber daya dapat difokuskan pada sektor domestik seperti kesehatan, jaminan sosial dan pendidikan.
Daerah pedalaman seperti Stubai Valley memperlihatkan bagaimana rasa aman itu tampak pada kehidupan sehari-hari. Warga berjalan santai melewati sungai pada tengah malam, sepeda dibiarkan tanpa rantai di depan kafe dan rumah tetap terbuka tanpa kekhawatiran.
Pengunjung sering merasa ritme hidup berubah setelah beberapa hari berada di lembah: bahu terasa lebih rileks, tidur lebih nyenyak dan perhatian kembali pada hal-hal sederhana seperti cahaya matahari di pegunungan atau suara air mengalir.
Singapura
Posisi enam secara global namun satu-satunya negara Asia dalam 10 besar membuat Singapura menonjol. Kota-negara ini menempati skor tinggi untuk keamanan publik meskipun punya pengeluaran militer per kapita yang besar. Minimnya konflik internal dan sistem keamanan yang efisien membuat warga merasa sangat aman.
Banyak penduduk berjalan tengah malam tanpa rasa takut, menikmati jajanan larut malam atau duduk tenang di taman setelah gelap. Kepercayaan terhadap institusi publik menciptakan suasana teratur dan stabil.
Meskipun terdapat keterbatasan pada beberapa kebebasan sosial, perubahan pelan-pelan terlihat melalui partisipasi generasi muda dalam acara seperti Pink Dot yang semakin diterima luas. Bagi wisatawan, kebebasan bergerak tanpa rasa khawatir menjadi pengalaman yang mencolok di kota yang terkenal rapi dan modern ini.
Penutup
Daftar lima besar GPI 2025 menunjukkan bahwa perdamaian tidak sekadar statistik, tetapi pengalaman hidup sehari-hari. Kepercayaan sosial, kebijakan publik yang kuat, dukungan komunitas dan kualitas hidup menjadi fondasi yang terus dipertahankan.
Di tengah meningkatnya konflik global, negara-negara ini memperlihatkan bahwa stabilitas tetap dapat dicapai ketika masyarakat dan pemerintah sejalan dalam menjaga rasa aman bersama.
Referensi
BBC – Five of the world’s most peaceful countries: what it’s really like to live there