Catatan Dahlan Iskan

Cinta Alwi

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

Oleh:Dahlan Iskan

Kali pertama melihat Banda, pekan lalu, perasaan saya campur aduk: siapa pemilik Banda. Sepertinya tetap Indonesia; –yakni Indonesia yang sibuk dengan MBG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, rupiah yang melemah, saham yang berguguran, dan ekspor sawit batu bara.

Dermaga kapal ini masih mengingatkan saya situasi Kaltim 50 tahun yang lalu. Lautnya sendiri bersih dan tenang. Dermaga Banda tetap di teluk yang damai oleh perlindungan pulau besar di depannya: pulau Banda Besar. Masih diayomi pula pulau Gunung Api yang menjulang tidak tinggi di sebelahnya. Tapi kapal yang bersandar di situ juga tidak banyak. Hanya satu kapal cepat yang saya tumpangi tadi, satu kapal kayu pengangkut sembako dari Ambon dan beberapa perahu bermotor jurusan pulau-pulau sekitar Banda.

Warung dan toko di sekitar dermaga juga lengang. Beberapa ojek sepeda motor menunggu penumpang yang turun dari perahu. Ada satu pasar; di kiri kanan jalan menuju pelabuhan. Tapi pasar itu hanya terlihat lapaknya.

Pasar itu memang hanya hidup ketika ada kapal Pelni merapat ke pelabuhan di dekatnya. Penumpang yang transit beberapa jam di Banda boleh turun untuk beli makanan di pasar itu. Begitu kapal membuang sauh pasar pun tutup –sampai kedatangan Pelni berikutnya.

Tidak jauh dari pasar itulah rumah pembuangan Bung Sjahrir –Sutan Sjahrir yang kelak di akhir tahun 1945 menjadi perdana menteri Indonesia. Itu rumah kuno. Rumah Belanda. Tidak terawat. Saya melangkah masuk ke rumah itu. Seorang wanita tua duduk diam di kursi di pojok rumah. Dia tidak peduli sekitarnya. Pun tidak peduli ada orang masuk ke rumah itu.

Saya pun melihat-lihat foto masa lalu di dindingnya. Foto yang sudah tidak terlalu jelas. Teks fotonya pun kecil kecil. Tidak terbaca untuk tatapan mata orang setua saya. Pemasangan fotonya juga asal-asalan. Terasa foto itu juga tidak peduli apakah akan dilihat orang atau tidak.

Hanya foto-foto di ruangan depan yang besar itu yang bisa saya lihat. Pintu-pintu ke ruang belakang tertutup. Saya pun mendatangi ibu yang di pojok: “Apakah saya boleh ke ruang belakang?”.

Bagikan
Artikel Terkait
PT DSI itulah yang akan ekspor sawit dan batu bara. Eksporter tunggal. Semua perusahaan sawit dan batu bara harus serahkan ekspornya.
Catatan Dahlan Iskan

Klarifikasi Bukan

Oleh: Dahlan Iskan Langkah cepat dilakukan. Sehari setelah Presiden Prabowo berpidato dar-der-dor...

Catatan Dahlan Iskan

Dor! Dor!

Oleh: Dahlan Iskan Dor! Mungkin tidak ada yang tewas oleh tembakan Presiden...

Catatan Dahlan Iskan

Rujak Ambon

Oleh: Dahlan Iskan Jangan baca lanjutan cerita perjalanan saya ke kepulauan Banda...

Catatan Dahlan Iskan

Kenari Tua

Oleh: Dahlan Iskan Pulau paling besar di antara sembilan pulau di kepulauan Banda adalah Banda...