Catatan Dahlan Iskan

Cinta Alwi

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

 

“Saya tinggal di situ,” katanyi lirih.

“Dengan siapa tinggal di situ?”

“Dengan suami”.

“Anak-anak?”

“Sudah tinggal di rumah mereka sendiri”.

“Ibu pegawai di sini?”

“Bukan”.

“Siapa yang menggaji ibu?”

“Tidak ada”.

“Siapa yang menugaskan ibu tinggal di sini?”

“Bapak Des Alwi, almarhum”.

Saya tidak bisa mengorek informasi selanjutnya. Ibu itu terlihat lemah, dan tidak peduli. Tapi saya tahu siapa Des Alwi. Pernah berjumpa dan bicara-bicara dengannya.

Anda juga sudah tahu siapa Des Alwi: tokoh utama dan satu-satunya asal Banda.

Saat duo Bung –Bung Hatta dan Bung Sjahrir– dibuang ke Banda, Des Alwi masih seorang anak berumur delapan tahun. Ia menarik perhatian duo Bung. Diajari ilmu pengetahuan. Rasa kebangsaan. Nasionalisme. Anti penjajahan. Si Alwi diangkat anak oleh duo Bung.

Saat penjajah Jepang mulai masuk ke Maluku, duo Bung dipulangkan ke Jakarta. Alwi sudah berumur 14 tahun. Ia diajak serta ke Jakarta.

Dua tahun kemudian Alwi-lah yang mendapat tugas memonitor perkembangan Perang Dunia II lewat radio gelap. Alwi yang menjaga agar radio itu berada di tempat yang aman dari mata-mata penjajah.

Radio itulah yang menyiarkan berita bahwa Jepang telah menyerah. Alwi melaporkan perkembangan itu ke Sjahrir. Lalu menyebar ke anak-anak muda aktivis kemerdekaan. Anak-anak muda itulah yang berkeinginan agar Indonesia merdeka –saat itu juga.

Merekalah yang berdiskusi: kalau Indonesia merdeka siapa presiden kita yang pertama. Mereka memilih tokoh ini: Amir Syarifuddin. Mereka mencari di mana Amir berada: tidak ditemukan. Akhirnya mereka tahu Amir sedang ditangkap Jepang dan dimasukkan penjara Lowokwaru, di Malang. Pemuda Arema sudah diinstruksikan agar mengeluarkan paksa Amir dari penjara tapi gagal.

Akhirnya anak-anak muda itu mencari calon presiden pilihan kedua: Sutan Sjahrir. Hanya saja Sjahrir menolak. Dirayu pun tidak mau. Sjahrir merasa masih terlalu muda. Baru 35 tahun. Tidak ada MK waktu itu.

Justru Sjahrir minta ke anak-anak muda itu agar presiden pertama kita Bung Karno saja. Mereka akhirnya mencari Bung Karno. Mereka sudah menduga: Bung Karno tidak setuju Indonesia merdeka saat itu juga. Bung Karno pilih menunggu janji Jepang yang kelak akan memerdekakan Indonesia.

Bagikan
Artikel Terkait
PT DSI itulah yang akan ekspor sawit dan batu bara. Eksporter tunggal. Semua perusahaan sawit dan batu bara harus serahkan ekspornya.
Catatan Dahlan Iskan

Klarifikasi Bukan

Entahlah mana yang paling benar. Baiknya kita sabar menunggu perkembangan sampai dua...

Catatan Dahlan Iskan

Dor! Dor!

Presiden Soeharto mengubah asas ekonomi menjadi tanpa nama. Tapi Anda tahu: praktik...

Catatan Dahlan Iskan

Rujak Ambon

  Tiba di kantor Cantika kami bisa pilih kursi. Ada tiga pilihan:...

Catatan Dahlan Iskan

Kenari Tua

  “Sejuta umat” yang terbukti laris hanya di mobil Avanza. Itulah merek...