Finnews.id – EKONOMI Rupiah kembali jatuh ke level terendah di sepanjang sejarah di perdagangan spot pagi ini, pada Senin (18/5/2026).
Dikutip dari informasi di media Bloomberg, Mata uang Tanah Air melemah sebanyak 1,13 persen ke posisi Rp17.662 / USD pada 10.12 WIB.
Ini menjadi rekor Rupiah paling lemah sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Pergerakan rupiah di pagi tadi justru tertekan oleh penguatan dolar AS serta lonjakan harga minyak dunia yang terus memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Harga minyak mentah jenis Brent kembali bertengger di 111,24 USD per barel pada 10.00 WIB sehingga membuat indeks dolar AS bertahan di level tinggi 99,35.
Di Indonesia, Rupiah menjadi mata uang paling lemah karena adanya tekanan ganda yang datang dari kenaikan harga minyak serta kondisi domestik yang tercermin dari data-data perekonomian terbaru.
Walaupun pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61 persen namun sejumlah data pendukung seperti keyakinan konsumen dan data penjualan ritel belum mampu menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Dampak dari hal ini menyebabkan IHSG juga sempat anjlok mencapai 4 persen menjadi pelemahan terdalam di antara bursa utama Asia.
Di pasar obligasi, tekanan jual juga mendorong yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik 16,3 basis poin 6,85 persen.
Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor terhadap aset keuangan Indonesia di tengah gejolak global serta tekanan terhadap rupiah pagi ini.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) tampaknya masih mengandalkan strategi “smart intervention” di pasar valuta asing dan obligasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.
Jika harga minyak bertahan tinggi dan dorongan pertumbuhan pemerintah mulai memicu tekanan inflasi yang lebih besar, maka BI diperkirakan akan kembali membuka peluang kenaikan suku bunga pada paruh kedua di tahun ini.