Home Market Laba ADRO Turun di Awal 2026, Volume Penjualan Jadi Biang Kerok! Prospek Masih Menarik?
Market

Laba ADRO Turun di Awal 2026, Volume Penjualan Jadi Biang Kerok! Prospek Masih Menarik?

Bagikan
Laba ADRO kuartal I 2026 turun akibat penjualan melemah, namun prospek tetap menarik dengan potensi bisnis aluminium.
Laba ADRO kuartal I 2026 turun akibat penjualan melemah, namun prospek tetap menarik dengan potensi bisnis aluminium.
Bagikan

finnews.id – Kinerja PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) pada kuartal I 2026 menunjukkan tekanan di sisi operasional. Laba bersih perusahaan tercatat menurun akibat penjualan batu bara yang melemah, meski secara keseluruhan masih sesuai dengan ekspektasi pasar.

Penurunan ini mencerminkan tantangan jangka pendek yang dihadapi perusahaan, terutama dari sisi volume dan kondisi operasional. Namun, prospek jangka menengah masih terbuka, terutama dengan rencana ekspansi bisnis hilirisasi.

Laba Bersih Turun, Tapi Masih Sesuai Ekspektasi

ADRO mencatat laba bersih sebesar US$128 juta pada kuartal I 2026. Angka ini turun sekitar 12 persen dibandingkan periode sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan kenaikan 23 persen secara tahunan.

Jika dibandingkan dengan proyeksi tahunan, capaian ini setara dengan sekitar 18 persen dari estimasi internal dan 25 persen dari konsensus pasar.

Penurunan laba terjadi karena melemahnya volume penjualan batu bara kokas, serta penurunan kinerja dari segmen jasa pertambangan melalui anak usaha SIS.

Penjualan Batu Bara Kokas Melemah

Salah satu tekanan utama berasal dari segmen batu bara kokas yang dikelola oleh ADMR. Volume penjualan turun 22 persen secara kuartalan menjadi 1,5 juta ton.

Penurunan ini lebih dalam dibandingkan produksi yang hanya turun 14 persen menjadi 1,7 juta ton. Kondisi ini menunjukkan adanya kendala distribusi atau logistik yang memengaruhi penjualan.

Faktor cuaca juga ikut berperan, di mana curah hujan yang tinggi menghambat aktivitas produksi dan pengiriman.

Harga Jual Naik, Margin Tetap Terjaga

Meski volume turun, harga jual rata-rata (ASP) batu bara kokas justru meningkat menjadi US$182 per ton, naik 15 persen secara kuartalan.

Kenaikan ini sejalan dengan tren harga batu bara kokas global yang menguat. Namun, biaya produksi juga ikut meningkat sehingga menahan potensi peningkatan keuntungan.

Biaya tunai (cash cost) naik menjadi US$94 per ton atau meningkat 10 persen. Kenaikan ini dipicu oleh beberapa faktor, seperti naiknya stripping ratio menjadi 3,6 kali, kenaikan biaya penambangan per ton sebesar 13 persen, serta lonjakan harga bahan bakar.

Bagikan
Artikel Terkait
Jadwal lengkap RUPS emiten 4–8 Mei 2026, dari pembagian dividen hingga aksi korporasi yang berpotensi menggerakkan saham.
Market

Jadwal RUPS Emiten 4–8 Mei 2026: Deretan Agenda Penting, dari Bagi Dividen hingga Perubahan Direksi

finnews.id – Pekan ini menjadi momen krusial bagi pelaku pasar modal. Sejumlah...

Market

Daftar Terbaru! 15 Perusahaan Siap IPO di BEI 2026, Ini Sektor Favorit Investor

finnews.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 15 perusahaan masuk dalam...

Gerbang Tol Cikampek Utama atau Cikatama (jasamarga)
Market

99 Ribu Kendaraan Padati Tol Cikampek Saat Long Weekend May Day 2026

finnews.id – Libur panjang akhir pekan yang bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional...

Laba PTBA kuartal I 2026 turun 49% secara kuartalan, namun masih sesuai target. Simak penyebab dan prospeknya ke depan.
Market

Laba PTBA Turun Tajam Secara Kuartalan, Tapi Masih Sesuai Target! Ini Penyebabnya

finnews.id – Kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) pada kuartal I 2026...