Home Market Laba ADRO Turun di Awal 2026, Volume Penjualan Jadi Biang Kerok! Prospek Masih Menarik?
Market

Laba ADRO Turun di Awal 2026, Volume Penjualan Jadi Biang Kerok! Prospek Masih Menarik?

Bagikan
Laba ADRO kuartal I 2026 turun akibat penjualan melemah, namun prospek tetap menarik dengan potensi bisnis aluminium.
Laba ADRO kuartal I 2026 turun akibat penjualan melemah, namun prospek tetap menarik dengan potensi bisnis aluminium.
Bagikan

Selain itu, tarif royalti juga meningkat menjadi 15 persen dari sebelumnya 12 persen.

Meski begitu, margin kas tetap naik menjadi US$88 per ton atau meningkat 17 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga jual masih mampu mengimbangi tekanan biaya.

Kinerja SIS Tertekan, Margin Menyusut

Segmen jasa pertambangan melalui SIS juga menghadapi tekanan. Volume pengangkutan batu bara turun menjadi 15,3 juta ton, sementara volume overburden mencapai 43,9 juta bcm, masing-masing turun 9 persen dan 15 persen.

Penurunan ini dipengaruhi oleh tingginya curah hujan yang menghambat aktivitas operasional.

Akibat penurunan volume, biaya per ton naik menjadi US$2,3 atau meningkat 18 persen karena utilisasi alat yang lebih rendah.

Sementara itu, tarif jasa penambangan relatif stabil di kisaran US$3,3 per ton.

Dengan kondisi tersebut, margin kas SIS turun tajam menjadi hanya US$1 per ton atau melemah 22 persen secara kuartalan.

Kontribusi Entitas Asosiasi Menguat

Di tengah tekanan operasional, ADRO mendapat dorongan dari pendapatan entitas asosiasi. Pendapatan dari segmen ini naik signifikan menjadi US$25 juta atau melonjak 78 persen secara kuartalan.

Peningkatan ini didorong oleh membaiknya kinerja BPI, yang menjadi salah satu penopang tambahan bagi perusahaan.

Bisnis Aluminium Jadi Harapan Baru

Ke depan, kontribusi dari bisnis aluminium melalui ADMR diperkirakan akan mulai terlihat pada paruh kedua 2026.

Selama kuartal pertama, segmen ini belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan. Oleh karena itu, pertumbuhan laba diprediksi akan mulai meningkat setelah proyek aluminium mulai mencatat penjualan.

Rekomendasi Buy Tetap Dipertahankan

Meski kinerja kuartal pertama belum optimal, proyeksi laba bersih ADRO tetap dipertahankan. Rekomendasi beli atau Buy juga tidak berubah, dengan target harga saham di level Rp3.600 per lembar.

Penilaian ini mencerminkan keyakinan bahwa nilai intrinsik perusahaan masih belum sepenuhnya terefleksikan di pasar.

Tanpa memperhitungkan bisnis hijau, estimasi nilai wajar berada di kisaran Rp3.000 per saham.

Risiko Tetap Perlu Diwaspadai

Sejumlah risiko masih membayangi kinerja ADRO ke depan. Di antaranya potensi penurunan harga batu bara kokas, keterlambatan proyek aluminium, hingga kenaikan biaya investasi.

Bagikan
Artikel Terkait
Jadwal lengkap RUPS emiten 4–8 Mei 2026, dari pembagian dividen hingga aksi korporasi yang berpotensi menggerakkan saham.
Market

Jadwal RUPS Emiten 4–8 Mei 2026: Deretan Agenda Penting, dari Bagi Dividen hingga Perubahan Direksi

Menariknya, sejumlah emiten seperti ARTO dan MARK juga memasukkan agenda aksi korporasi,...

Market

Daftar Terbaru! 15 Perusahaan Siap IPO di BEI 2026, Ini Sektor Favorit Investor

finnews.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 15 perusahaan masuk dalam...

Gerbang Tol Cikampek Utama atau Cikatama (jasamarga)
Market

99 Ribu Kendaraan Padati Tol Cikampek Saat Long Weekend May Day 2026

finnews.id – Libur panjang akhir pekan yang bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional...

Laba PTBA kuartal I 2026 turun 49% secara kuartalan, namun masih sesuai target. Simak penyebab dan prospeknya ke depan.
Market

Laba PTBA Turun Tajam Secara Kuartalan, Tapi Masih Sesuai Target! Ini Penyebabnya

Penurunan ini dipengaruhi oleh tingginya curah hujan yang menghambat aktivitas penambangan. Namun,...