Selain itu, tarif royalti juga meningkat menjadi 15 persen dari sebelumnya 12 persen.
Meski begitu, margin kas tetap naik menjadi US$88 per ton atau meningkat 17 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga jual masih mampu mengimbangi tekanan biaya.
Kinerja SIS Tertekan, Margin Menyusut
Segmen jasa pertambangan melalui SIS juga menghadapi tekanan. Volume pengangkutan batu bara turun menjadi 15,3 juta ton, sementara volume overburden mencapai 43,9 juta bcm, masing-masing turun 9 persen dan 15 persen.
Penurunan ini dipengaruhi oleh tingginya curah hujan yang menghambat aktivitas operasional.
Akibat penurunan volume, biaya per ton naik menjadi US$2,3 atau meningkat 18 persen karena utilisasi alat yang lebih rendah.
Sementara itu, tarif jasa penambangan relatif stabil di kisaran US$3,3 per ton.
Dengan kondisi tersebut, margin kas SIS turun tajam menjadi hanya US$1 per ton atau melemah 22 persen secara kuartalan.
Kontribusi Entitas Asosiasi Menguat
Di tengah tekanan operasional, ADRO mendapat dorongan dari pendapatan entitas asosiasi. Pendapatan dari segmen ini naik signifikan menjadi US$25 juta atau melonjak 78 persen secara kuartalan.
Peningkatan ini didorong oleh membaiknya kinerja BPI, yang menjadi salah satu penopang tambahan bagi perusahaan.
Bisnis Aluminium Jadi Harapan Baru
Ke depan, kontribusi dari bisnis aluminium melalui ADMR diperkirakan akan mulai terlihat pada paruh kedua 2026.
Selama kuartal pertama, segmen ini belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan. Oleh karena itu, pertumbuhan laba diprediksi akan mulai meningkat setelah proyek aluminium mulai mencatat penjualan.
Rekomendasi Buy Tetap Dipertahankan
Meski kinerja kuartal pertama belum optimal, proyeksi laba bersih ADRO tetap dipertahankan. Rekomendasi beli atau Buy juga tidak berubah, dengan target harga saham di level Rp3.600 per lembar.
Penilaian ini mencerminkan keyakinan bahwa nilai intrinsik perusahaan masih belum sepenuhnya terefleksikan di pasar.
Tanpa memperhitungkan bisnis hijau, estimasi nilai wajar berada di kisaran Rp3.000 per saham.
Risiko Tetap Perlu Diwaspadai
Sejumlah risiko masih membayangi kinerja ADRO ke depan. Di antaranya potensi penurunan harga batu bara kokas, keterlambatan proyek aluminium, hingga kenaikan biaya investasi.
- ADMR aluminium
- ADRO kuartal I 2026
- analisis saham Adaro Energy Indonesia 2026
- analisis saham ADRO
- batu bara kokas
- dampak volume penjualan terhadap laba ADRO
- harga batu bara global
- kinerja ADRO 2026
- kinerja ADRO kuartal pertama 2026 terbaru
- laba ADRO terbaru
- penyebab laba ADRO turun di awal tahun
- prospek bisnis aluminium ADMR paruh kedua 2026
- prospek saham ADRO
- saham Adaro Energy
- SIS Adaro