finnews.id – Sebuah insiden perkeretaapian terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin malam 27 April Malam 2026, yang merenggut nyawa para penumpang
Kereta Api Argo Bromo Anggrek dilaporkan terlibat kecelakaan dengan Kereta Rel Listrik (KRL) yang melayani rute Bekasi–Jakarta di area emplasemen kilometer 28+920 sekitar pukul 20.52 WIB.
Kecelakaan ini melibatkan rangkaian PLB 5568A relasi CL KPB–CKR dan PLB 4B yang merupakan KA Argo Bromo Anggrek dengan rute Gambir–Surabaya Pasar Turi.
Fakta Menarik Kereta Argo Bromo Anggrek
Di balik insiden tersebut, KA Argo Bromo Anggrek sendiri memiliki sejarah panjang dalam dunia transportasi kereta api di Indonesia.
Layanan ini pertama kali beroperasi pada 31 Juli 1995, dengan nama awal Argo Bromo JS-950.
Nama tersebut bukan tanpa arti, JS merupakan singkatan dari Jakarta – Surabaya, angka 9 melambangkan durasi perjalanan, sedangkan 50 mengacu pada usia kemerdekaan Indonesia saat itu.
Seiring waktu, tepatnya pada 24 September 1997, nama tersebut diubah menjadi Argo Bromo Anggrek.
Nama “Bromo” diambil dari gunung terkenal di Pulau Jawa, sementara “Anggrek” merujuk pada salah satu bunga nasional Indonesia.
Sebagai salah satu layanan kereta eksekutif unggulan, Argo Bromo Anggrek dikenal luas sebagai pilihan utama untuk perjalanan jarak jauh di Pulau Jawa, khususnya di jalur utara.
Bahkan, kereta ini mendapat julukan “raja lintas utara” dari para penggemar kereta api.
Rangkaian Gerbong Super Premium
Dalam operasionalnya, satu rangkaian kereta ini biasanya terdiri dari 7 hingga 9 kereta kelas eksekutif, dilengkapi satu kereta makan dan satu kereta pembangkit.
Performa perjalanannya juga cukup impresif, dengan waktu tempuh sekitar 8 hingga 9 jam untuk jarak lebih dari 700 kilometer.
Dari sisi teknologi, Argo Bromo Anggrek dilengkapi sistem suspensi pegas udara yang berfungsi meredam guncangan selama perjalanan.
Selain itu, penggunaan bogie tipe K9 berlisensi ALSTOM memberikan kestabilan lebih baik dibanding generasi sebelumnya.
Secara desain, kereta ini memiliki tampilan khas berupa jendela panjang berwarna gelap, bodi yang sedikit melebar di bagian tengah.
Interiornya pun dirancang untuk kenyamanan penumpang, dengan ruang kabin yang lega, kursi yang dilengkapi sandaran kaki.
Yang menjadi ciri khasnya dari dulu, kereta ini selalu mempunyai pintu otomatis model geser yang menjadi salah satu ciri modern dibandingkan kereta generasi lama.
Meski bukan kereta jarak jauh pertama di Indonesia, Argo Bromo Anggrek berhasil menempatkan diri sebagai salah satu layanan terbaik dan paling prestisius dalam sejarah perkeretaapian nasional.