finnews.id – Kabar gembira datang dari raksasa perbankan tanah air! Di tengah guncangan ekonomi dunia akibat tensi geopolitik yang kian panas, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) justru tampil perkasa. Kamu harus tahu kalau Bank Mandiri baru saja merilis laporan keuangan Kuartal I-2026 dengan angka yang bikin mata melotot. Tidak tanggung-tanggung, bank berlogo pita emas ini meraup laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,4 triliun!
Angka fantastis ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 16,6 persen jika kita bandingkan secara tahunan (year-on-year/YoY). Yang lebih bikin iri perbankan lain, tingkat profitabilitas BMRI terjaga sangat kokoh dengan angka Return on Equity (ROE) mencapai 22,1 persen. Ini membuktikan bahwa Bank Mandiri sangat efisien dalam memutar modal untuk menghasilkan keuntungan maksimal bagi para pemegang sahamnya.
Penyaluran Kredit Mandiri Melaju Kencang Lampaui Industri
Mengapa kinerja Bank Mandiri bisa sekeren ini? Rahasianya ada pada fungsi intermediasi yang sangat agresif namun terukur. Hingga Maret 2026, BMRI sukses menyalurkan kredit sebesar Rp1.530 triliun. Angka ini melonjak 17,4 persen secara tahunan, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang hanya berada di angka 9,37 persen.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari fokus sinergi yang terarah. Lewat semangat “Sinergi Majukan Negeri”, Bank Mandiri memperkuat dukungan pada sektor UMKM, ekonomi kreatif, hingga penguatan ekosistem digital. “Kinerja positif ini merupakan hasil nyata dari fokus sinergi yang melibatkan berbagai unsur perekonomian nasional,” ujar Riduan di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Dana Pihak Ketiga (DPK) Tumbuh Subur, Nasabah Makin Percaya
Tidak hanya jago meminjamkan uang, Bank Mandiri juga sangat sukses menghimpun dana masyarakat. Per Maret 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bank only tercatat sebesar Rp1.675 triliun. Angka ini melesat 21,1 persen YoY, lagi-lain melampaui rata-rata industri yang hanya tumbuh 13,2 persen. Kepercayaan masyarakat terhadap keamanan dana di Bank Mandiri terbukti sangat tinggi di tengah volatilitas global.
Menariknya lagi, struktur pendanaan BMRI semakin sehat. Dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang terdiri dari tabungan dan giro mencapai Rp1.201 triliun, tumbuh 12,7 persen YoY. Dengan banyaknya dana murah ini, biaya dana bank menjadi lebih efisien, sehingga Bank Mandiri memiliki ruang lebih luas untuk bermanuver dalam persaingan bunga kredit.
Fondasi Permodalan Kuat: Siap Hadapi Volatilitas Global
Bagi kamu yang khawatir dengan risiko krisis global, Bank Mandiri sudah menyiapkan “benteng” yang sangat tebal. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BMRI berada di level 19,7 persen. Posisi modal yang sangat kuat ini memberikan jaminan bahwa Bank Mandiri siap menghadapi gejolak pasar internasional yang tidak menentu sekaligus melanjutkan ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Efisiensi operasional juga menjadi kunci sukses lainnya. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) membaik ke level 58 persen. Artinya, Bank Mandiri semakin hemat dalam menjalankan operasionalnya, turun 3,48 persen jika dibandingkan tahun lalu. Semakin rendah rasio BOPO, maka semakin produktif bank tersebut dalam mencetak laba bersih.
Kontributor Utama Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Pencapaian laba bersih Rp15,4 triliun ini bukan sekadar soal angka di atas kertas bagi investor. Riduan menjelaskan bahwa kinerja solid ini menjadi komitmen perseroan untuk terus menjadi kontributor utama dalam mendorong roda ekonomi Indonesia. Dengan sinergi ekosistem digital yang semakin matang, Bank Mandiri optimistis tren positif ini akan berlanjut sepanjang tahun 2026.
Jadi, bagaimana menurutmu? Dengan pertumbuhan kredit dan dana masyarakat yang melesat di atas rata-rata industri, ditambah efisiensi yang semakin tajam, Bank Mandiri sepertinya masih akan menjadi “raja” di bursa saham sektor perbankan. Jangan sampai terlewat untuk memantau terus pergerakan saham BMRI ya! (*)