finnews.id – Sri Lanka memulangkan ratusan pelaut Iran yang sempat terdampar akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Langkah ini sekaligus menegaskan posisi netral negara tersebut di tengah ketegangan yang terus meluas.
Pada Rabu (15 April), Wakil Menteri Pertahanan Sri Lanka, Aruna Jayasekara, mengonfirmasi bahwa total 238 pelaut Iran telah kembali ke negara asal mereka. Para pelaut ini sebelumnya terdampar setelah salah satu kapal perang Iran diserang di perairan sekitar Sri Lanka.
Evakuasi Pelaut dari Dua Kapal Iran
Proses pemulangan melibatkan dua kapal berbeda, yaitu IRIS Dena dan IRIS Bushehr. Sebanyak 32 pelaut berasal dari IRIS Dena, fregat yang diserang pada 4 Maret, sementara 206 lainnya berasal dari IRIS Bushehr.
“Beberapa pelaut dari IRIS Bushehr tetap tinggal untuk mengoperasikan kapal tersebut, tetapi 206 bergabung dengan mereka yang diselamatkan dari IRIS Dena dan kembali ke rumah tadi malam dengan pesawat sewaan,” kata Jayasekara.
Meski sebagian besar telah dipulangkan, sekitar 15 pelaut Iran masih berada di Sri Lanka untuk mengoperasikan IRIS Bushehr. Kapal tersebut saat ini berlabuh di lepas pantai Trincomalee, wilayah timur laut negara itu.
Serangan IRIS Dena Picu Dampak Besar
Serangan terhadap IRIS Dena menjadi titik penting dalam meluasnya konflik Timur Tengah ke kawasan Samudra Hindia. Insiden ini terjadi ketika kapal tersebut ditorpedo oleh kapal selam Amerika Serikat.
Akibat serangan tersebut, sebanyak 104 pelaut Iran dilaporkan tewas pada fase awal perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dari jumlah tersebut, otoritas Iran telah menemukan dan memulangkan 84 jenazah korban.
Negosiasi dan Alasan Kemanusiaan
Sebelumnya, Iran dan Sri Lanka sempat melakukan pembicaraan terkait nasib para pelaut. Duta Besar Iran untuk Sri Lanka, Alireza Delkhosh, menyatakan bahwa negosiasi dilakukan untuk memastikan pemulangan awak IRIS Bushehr yang sempat mencari perlindungan.
Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, menjelaskan bahwa negaranya memberikan perlindungan atas dasar kemanusiaan. Ia menegaskan kebijakan tersebut sejalan dengan Konvensi Den Haag 1907.
Namun, hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai dasar hukum yang memungkinkan para pelaut tersebut meninggalkan Sri Lanka.
Sri Lanka Jaga Netralitas di Tengah Konflik
Di tengah tekanan geopolitik, Sri Lanka tetap berusaha menjaga posisi netral. Pemerintah bahkan menolak permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan fasilitas daratnya bagi operasi militer.
Keputusan ini menunjukkan upaya Kolombo untuk tidak terlibat langsung dalam konflik yang semakin kompleks.
Kapal Iran Lain Juga Cari Perlindungan
Selain IRIS Dena dan IRIS Bushehr, kapal Iran lainnya, IRIS Lavan, juga terdampak situasi ini. Kapal dengan 183 awak tersebut sempat mencari perlindungan di pelabuhan Kochi, India, pada awal Maret.
Lebih dari 100 awak non-esensial dari kapal tersebut dilaporkan telah meninggalkan India, menyusul perkembangan situasi keamanan.