finnews.id – Kasus keracunan massal yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta Timur memicu perhatian serius. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) langsung mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk bertindak cepat dan transparan.
“BGN wajib melakukan investigasi menyeluruh secara transparan dan segera mengumumkan hasil uji laboratorium terkait penyebab keracunan,” kata Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, Selasa, 8 April 2026.
Permintaan ini muncul karena masyarakat, khususnya orang tua siswa, membutuhkan kejelasan terkait penyebab kejadian tersebut. Selain itu, hasil investigasi juga dinilai penting untuk mencegah kasus serupa di masa depan.
Jaminan Biaya Pengobatan Jadi Sorotan
Selain mendorong investigasi, KPAI juga menekankan pentingnya tanggung jawab terhadap para korban. Lembaga tersebut meminta BGN memastikan seluruh biaya pengobatan anak-anak yang terdampak ditanggung sepenuhnya.
Langkah ini dinilai penting agar proses pemulihan para siswa berjalan optimal tanpa membebani keluarga.
Evaluasi Sistem dan Rantai Pasok MBG
KPAI tidak hanya fokus pada penanganan jangka pendek. Mereka juga meminta BGN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelaksanaan program MBG.
Evaluasi tersebut mencakup tata kelola, rantai pasok makanan, hingga standar penyimpanan di setiap SPPG. Tujuannya jelas, yaitu memastikan keamanan makanan dan mencegah insiden serupa terulang.
“BGN harus mendengarkan suara dan kekhawatiran anak serta orang tua. Pemulihan program harus berawal dari pelibatan perspektif penerima manfaat,” kata Jasra Putra.
72 Siswa Jadi Korban Keracunan
Kasus ini terungkap setelah insiden keracunan massal terjadi pada Kamis (2/4) di sejumlah sekolah di Jakarta Timur. Total sebanyak 72 siswa dari empat sekolah menjadi korban.
Sekolah yang terdampak antara lain SMAN 91, SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 09, dan SDN Pondok Kelapa 07.
KPAI juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMAN 91 serta menjenguk para korban yang dirawat di RS Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Korban Jalani Perawatan Intensif
Saat ini, puluhan siswa masih menjalani perawatan intensif di beberapa rumah sakit. Di antaranya RSKD Duren Sawit, RSKD Pondok Kopi, dan RS Harum.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya penanganan cepat sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap program MBG agar keamanan pangan bagi siswa tetap terjamin.