finnews.id – BPH Migas memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi nasional dalam kondisi aman dan terkendali hingga awal April 2026.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyebut stok Pertalite (RON 90) saat ini mencapai 1,5 juta kiloliter dengan ketahanan 18,1 hari.
“Untuk Pertalite, coverage day mencapai 18,1 hari dan statusnya sangat aman,” ujar Anas dalam rapat dengar pendapat bersama DPR, Rabu (8/4/2026).
Selain Pertalite, cadangan BBM jenis bensin lainnya juga terjaga. Pertamax (RON 92) tercatat memiliki ketahanan hingga 22,1 hari dengan stok 382 ribu kiloliter.
Sementara Pertamax Turbo (RON 98) memiliki cadangan lebih panjang, yakni mencapai 46,5 hari.
“Seluruh jenis bensin dalam kondisi aman dan distribusi berjalan lancar ke masyarakat,” kata Anas.
Solar dan Dex Tetap Terkendali
Untuk BBM jenis solar, ketahanan stok Solar (CN 48) berada di angka 16,5 hari. Adapun Pertamina Dex (CN 53) memiliki cadangan hingga 64,5 hari.
Menurut Anas, pergerakan stok BBM sangat dinamis mengikuti kebutuhan masyarakat. Namun, pasokan tetap terjaga karena produksi kilang berjalan normal.
BPH Migas juga memastikan koordinasi dengan Pertamina terus dilakukan guna menjaga stabilitas pasokan.
Stok Avtur Capai 28 Hari
Untuk bahan bakar pesawat (avtur), stok nasional tercatat mampu bertahan hingga 28,1 hari.
Kondisi ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan penerbangan dalam waktu dekat.
Penyaluran BBM Masih Sesuai Target
BPH Migas turut melaporkan realisasi penyaluran BBM sepanjang triwulan pertama 2026 masih dalam batas aman.
Penyaluran solar yang masuk kategori Jenis BBM Tertentu (JBT) mencapai 4,5 juta kiloliter dari kuota 18,6 juta KL.
Sementara Pertalite yang termasuk Jenis BBM Khusus Penugasan (JPKP) telah tersalurkan 6,88 juta KL atau sekitar 23,52% dari total kuota nasional 29,26 juta KL.
Dengan kondisi stok dan distribusi yang terjaga, BPH Migas menegaskan ketahanan energi nasional, khususnya BBM, tetap stabil.
Produksi kilang yang berjalan normal tanpa gangguan menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan di tengah fluktuasi konsumsi masyarakat.