finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari jalur maritim paling panas di dunia. Untuk pertama kalinya sejak konflik pecah, kapal kontainer milik Prancis dan kapal tanker Jepang berhasil melintasi Selat Hormuz, Jumat, 3 April 2026.
Fenomena ini menjadi sorotan tajam karena Iran praktis telah memblokade rute vital pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) tersebut selama perang berlangsung.
Data pelacakan maritim dari Marine Traffic menunjukkan pergerakan beberapa kapal yang berani menembus zona bahaya tersebut. Hal ini memberikan sedikit titik terang bagi stabilitas ekonomi global yang sebelumnya terguncang akibat terhentinya arus energi.
Taktik “Gerbang Tol Teheran” dan Rute Prancis
Kapal pertama yang mencuri perhatian adalah Kribi, sebuah kapal kontainer berbendera Malta milik raksasa transportasi Prancis, CMA CGM. Kapal ini terpantau meninggalkan kawasan Teluk pada Kamis sore. Menariknya, hingga Jumat pagi, kapal tersebut berada di lepas pantai Muscat, Oman, sambil tetap menyiarkan pesan “pemilik Prancis” pada sistem transpondernya.
Data navigasi mengungkapkan bahwa Kribi tidak sembarangan melintas. Kapal ini menggunakan rute utara yang telah mendapatkan persetujuan dari pihak Iran. Jurnal pelayaran terkemuka, Lloyd’s List, menyebut jalur khusus ini dengan julukan “Gerbang Tol Teheran”.
Jepang Gunakan Jalur Selatan dan Identitas Oman
Selain kapal Prancis, tiga kapal tanker lainnya juga berhasil keluar dari Selat Hormuz pada hari yang sama. Salah satunya adalah Sohar LNG, yang dimiliki bersama oleh perusahaan pelayaran Jepang, Mitsui OSK. Keberhasilan ini tercatat sebagai momen pertama kapal Jepang keluar dari Teluk sejak perang dimulai lebih dari sebulan lalu.
Namun, kapal-kapal ini menggunakan strategi yang berbeda dari kapal Prancis. Mereka mengambil jalur selatan yang berlayar sangat dekat dengan pantai Semenanjung Musandam, Oman. Taktik unik juga mereka terapkan untuk menjaga keamanan:
Ketiga kapal tersebut memberi sinyal bahwa mereka adalah “KAPAL OMAN” dalam pesan yang disiarkan oleh transponder mereka saat melintasi selat.
Langkah ini terbukti efektif setelah hampir tiga minggu tidak ada kapal yang berani mengambil jalur alternatif tersebut.