finnews.id – Pemerintah Pakistan mengambil langkah cepat untuk meredam dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Transportasi umum di ibu kota Islamabad akan digratiskan selama satu bulan penuh.
Kebijakan ini muncul di tengah lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mobilitas harian.
Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, mengumumkan langsung kebijakan ini melalui platform X.
“Semua transportasi umum di Islamabad akan digratiskan untuk masyarakat selama 30 hari ke depan, mulai besok,” kata Mohsin Naqvi, Jumat (3/4).
Ia juga menegaskan bahwa kementeriannya akan menanggung biaya program tersebut sebesar 350 juta rupee Pakistan atau sekitar Rp21,3 miliar.
Lonjakan Harga BBM Picu Kebijakan Darurat
Sebelumnya, Pakistan menaikkan harga BBM secara signifikan pada Kamis. Harga bensin per liter melonjak dari 321,17 rupee (sekitar Rp19.600) menjadi 458,4 rupee (sekitar Rp28.000).
Selain itu, harga solar juga meningkat tajam dari 335,86 rupee (sekitar Rp20.500) menjadi 520,35 rupee (sekitar Rp31.700).
Kenaikan ini berkaitan erat dengan gangguan pasokan energi global, terutama dari jalur distribusi utama di Selat Hormuz.
Dampak Konflik Timur Tengah Meluas
Pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz dilaporkan menurun drastis akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Jalur ini sendiri biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.
Gangguan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Korban dari Negara Asia Terus Bertambah
Dampak konflik juga dirasakan oleh warga negara Asia yang bekerja di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Nepal melaporkan bahwa 21 pekerja migrannya mengalami luka-luka sejak konflik dimulai.
Satu orang dilaporkan tewas akibat serangan drone Iran, sementara 11 lainnya ditangkap karena dituduh menyebarkan informasi yang salah.
Sementara itu, media publik Thai PBS melaporkan penemuan sisa jasad manusia di kapal Thailand yang sebelumnya diserang di Selat Hormuz bulan lalu.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa jasad tersebut akan dikirim untuk proses identifikasi forensik. Kapal Mayuree Naree sendiri diserang saat berlayar di dekat Oman pada 11 Maret, dan hingga kini tiga awak kapal masih dinyatakan hilang.
Menurut Anadolu, sedikitnya 26 orang dari berbagai negara Asia tewas atau masih hilang sejak konflik berlangsung.
Korban tersebut mencakup sembilan warga India (satu hilang), empat dari Bangladesh, empat dari Pakistan, serta masing-masing satu dari China, Nepal, dan Filipina. Selain itu, tiga warga Indonesia dan tiga dari Thailand juga masih hilang di perairan sekitar Timur Tengah.
Kebijakan Regional Hadapi Krisis Energi
Sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipatif untuk menghadapi krisis energi yang semakin meluas. Di Indonesia, pemerintah sebelumnya meminta aparatur sipil negara untuk bekerja dari rumah.
Sementara itu di Malaysia, pegawai negeri yang tinggal lebih dari 8 kilometer dari kantor akan menjalani skema kerja dari rumah selama tiga hari dalam sepekan mulai 15 April, sebagaimana dilaporkan Free Malaysia Today.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa dampak konflik Timur Tengah tidak hanya memengaruhi kawasan tersebut, tetapi juga merambat ke berbagai negara melalui sektor energi dan ekonomi.