finnews.id – Begini cerita Aipda Vicky Aristo Katiandagho yang meninggalkan seragam Korps Bhayangkara setelah menerima perintah mutasi yang ia duga berkaitan erat dengan pengusutan kasus korupsi.
Sebelum gelombang mutasi menerjang, Vicky tengah gencar mendalami perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menyeret nama pejabat penting di Kabupaten Minahasa. Sebagai penyidik yang berfokus pada tipikor, ia mencium adanya ketidakberesan dalam proyek pemerintah daerah.
Vicky membeberkan bahwa dirinya sedang menangani kasus yang menjadi atensi luas masyarakat. Kasus tersebut menyangkut pengadaan tas ramah lingkungan yang merupakan program Bupati Minahasa pada tahun 2020 silam.
Penyelidikan intensif sebenarnya telah ia mulai sejak tahun 2021. Setelah mengumpulkan bukti-bukti permulaan yang cukup, Vicky bersama tim menaikkan status perkara tersebut menjadi penyidikan pada 5 September 2024. Keputusan menaikkan status ini pun tidak sembarangan, karena mereka telah melalui prosedur gelar perkara di Direktorat Reskrimsus Polda Sulawesi Utara (Sulut).
“Kami menemukan peristiwa pidana yang jelas, sehingga statusnya kami tingkatkan menjadi penyidikan,” ujar Vicky.
Mutasi Mendadak di Tengah Penyidikan
Dalam perjalanannya, Vicky telah memeriksa sejumlah saksi kunci dan mengamankan berbagai dokumen sebagai alat bukti kuat. Namun, saat proses hukum sedang berjalan menuju penetapan tersangka, sebuah surat telegram muncul secara tiba-tiba.
Pimpinan Polri memindahkan tugas Vicky ke Polres Kepulauan Talaud. Ia mengaku terkejut karena mutasi tersebut terjadi tanpa alasan yang jelas di tengah penanganan kasus besar yang melibatkan orang-orang penting.
Merasa ada kejanggalan, Vicky mengambil langkah drastis dengan mengajukan pengunduran diri sejak Juni 2025. Setelah penantian panjang, institusi Polri akhirnya menyetujui permohonan tersebut pada awal tahun 2026.
Jualan Kopi dan Jiwa Bhayangkara
Kini, Vicky menata hidup baru di luar institusi kepolisian dengan menjalani bisnis kedai kopi. Meskipun sudah tidak lagi menjabat sebagai polisi aktif, ia mengaku tetap mencintai Polri dengan sepenuh hati.
Momen perpisahannya pun sempat viral di media sosial pada akhir Maret 2026. Dalam sebuah video, Vicky tampak memberikan penghormatan terakhir dan bersujud di depan gedung Polda Sulut.
“Kapan pun baju cokelat ini bisa tanggal, tetapi jiwa tetap Bhayangkara. Sekali Bhayangkara, selamanya Bhayangkara. I quit,” tulisnya dalam keterangan unggahan tersebut yang menyentuh hati para netizen.(*).