Finnews.id – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengeluarkan pernyataan mengejutkan. AS akan kembali melakukan komunikasi tingkat tinggi dengan Korea Utara.
Langkah ini menjadi angin segar sekaligus pertanyaan besar bagi para pengamat geopolitik global, mengingat hubungan kedua negara yang selama ini berada dalam titik beku.
Dalam keterangannya di hadapan awak media pada Rabu, 25 Februari 2026, Rubio menegaskan bahwa pintu diplomasi Washington tidak tertutup bagi siapa pun.
Ia menekankan Amerika Serikat pada prinsipnya bersedia menjalin komunikasi dengan pemerintahan mana pun, selama pihak tersebut memiliki niatan untuk berbagi informasi atau pandangan strategis.
“Amerika Serikat selalu siap berbicara dengan pejabat dari pemerintahan mana pun yang memiliki informasi atau pandangan untuk dibagikan kepada kami,” ungkap Rubio.
Kim Jong Un Tunggu Langkah Nyata AS
Pernyataan “terbuka untuk dialog” ini bukannya tanpa tantangan. Sejauh ini, pihak Pyongyang belum memberikan respons resmi yang konkret.
Mengingat rekam jejak hubungan kedua negara yang penuh dengan ketegangan, bola panas kini berpindah ke tangan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.
Dalam pidato strategisnya di Kongres ke-9 Partai Buruh Korea, Kim Jong Un dengan tegas menyatakan masa depan relasi antara Pyongyang dan Washington tidak berdiri di ruang hampa.
Menurutnya, segala kemungkinan mengenai perbaikan hubungan diplomatik sepenuhnya bergantung pada kebijakan nyata yang diambil oleh Amerika Serikat.
Hingga saat ini, belum ada jadwal pasti atau agenda bilateral yang tersusun. Namun, sinyal dari Washington ini setidaknya memberikan celah bagi kedua belah pihak untuk meninjau kembali posisi masing-masing, terlepas dari belum adanya kemajuan signifikan di lapangan.
Keterbukaan diplomatik yang digaungkan oleh Marco Rubio ternyata memiliki spektrum yang lebih luas daripada sekadar masalah Semenanjung Korea. Strategi ini tampaknya menjadi cetak biru kebijakan luar negeri AS yang lebih komprehensif.