Home News Nyawa Melayang Karena Buku dan Pulpen, JPPI: Tragedi NTT Bukti Negara Abaikan Hak Pendidikan
News

Nyawa Melayang Karena Buku dan Pulpen, JPPI: Tragedi NTT Bukti Negara Abaikan Hak Pendidikan

Bagikan
Tragedi siswa SD NTT buku tulis
JPPI kritik keras pemerintah atas tragedi siswa SD di NTT yang bunuh diri karena tak mampu beli buku. Anggaran pendidikan 20 persen kini jadi sorotan.Foto:Net
Bagikan

Finnews.id – Kabar duka dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang melibatkan seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR (10), memicu gelombang kritik pedas terhadap kebijakan pendidikan nasional. Jaringan Pemantauan Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai kasus ini sebagai tamparan keras bagi pemerintah yang sering mengklaim kenaikan anggaran pendidikan namun gagal menjamin kebutuhan dasar siswa miskin.

YBR ditemukan meninggal dunia pada Kamis 29 Januari 2026 setelah permintaannya untuk membeli buku tulis dan pulpen tidak mampu dipenuhi sang ibu karena himpitan ekonomi. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa realitas di lapangan menunjukkan nyawa seorang anak bisa melayang hanya karena harga alat tulis yang tidak terjangkau.

“Di tengah klaim anggaran pendidikan yang terus naik, realitasnya seorang anak menyerah karena biaya pendidikan yang mencekik. Ini pukulan telak bagi perlindungan hak anak,” tegas Ubaid, Rabu 4 Februari 2026.

Ubaid menyoroti adanya pergeseran prioritas dalam APBN 2026. Menurut data JPPI, anggaran pendidikan yang seharusnya mencapai 20 persen kini banyak terserap untuk program lain. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2025, sekitar 69 persen anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru bersumber dari dana pendidikan, yang mencapai angka 223 triliun.

Kondisi ini menyebabkan anggaran murni pendidikan di APBN 2026 menyusut hingga tersisa 14 persen saja. JPPI mengecam narasi pejabat publik yang menyebut anak putus sekolah hanya karena faktor “kurang jajan”. Tragedi di NTT membuktikan bahwa anak-anak berhenti sekolah, bahkan mengakhiri hidup, karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan operasional sekolah yang bersifat mendasar.

“Anak-anak kita tidak menyerah karena tidak bisa beli jajan di kantin, tapi karena beban biaya yang negara biarkan tetap mahal,” tambah Ubaid.

Sebelum mengakhiri hidupnya di pohon cengkih, YBR sempat meninggalkan sepucuk surat menyentuh untuk sang ibu. Surat tersebut berisi pesan agar ibunya tidak menangis saat dirinya sudah tiada. Kondisi keluarga yang sulit, di mana sang ibu harus menanggung lima orang anak sendirian, menjadi potret buram kemiskinan yang gagal terdeteksi oleh jaring pengaman pendidikan seperti Dana BOS maupun PIP.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
News

Ini Tata Cara dan Niat Salat Gerhana Matahari Cincin Menjelang Fenomena 17 Februari

finnews.id – Para pengamat astronomi dan masyarakat luas kini tengah bersiap menyambut...

News

Pelari Ambon Matheos Berhitu Tantang Ultra Marathon 1.350 Km di Gurun Yordania

finnews.id – Pelari ultra marathon asal Kota Ambon, Maluku, Matheos Berhitu, bersiap...

News

Misteri Lubang Raksasa Aceh Tengah: Bukan ‘Sinkhole’, Tapi Ancaman ‘Piping Erosion’ 

finnews.id – Sebuah fenomena alam yang mencengangkan sekaligus mengerikan tengah terjadi di...

Inara Rusli
News

Sopir Inara Rusli Ngaku Biasa Utak-Atik CCTV Sebelum Skandal Seks Mencuat

finnews.id – Agung Maryanto, sopir pribadi yang telah mengabdi selama empat tahun...