finnews.id – Dalam Acara Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di salah satu desa di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memicu diskusi publik.
Acara yang pada awalnya berlangsung khidmat dengan nuansa keagamaan tersebut ditutup dengan hiburan musik dangdut yang menghadirkan biduan lokal.
Kegiatan yang dihadiri ratusan warga tersebut sejak awal berjalan sesuai tradisi keagamaan. Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, selawat nabi, serta ceramah agama yang menekankan esensi perjalanan spiritual Rasulullah SAW.
Namun, suasana berubah ketika panitia penyelenggara menyuguhkan hiburan musik di penghujung acara.
Pihak panitia penyelenggara menyampaikan bahwa kehadiran hiburan musik bukan tanpa pertimbangan. Konsep tersebut sengaja dipilih sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi atau keikutsertaan masyarakat dalam peringatan hari besar Islam.
Menurut panitia, penggabungan unsur dakwah dan hiburan rakyat yang dekat dengan keseharian warga diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk hadir sekaligus untuk memperkuat silaturahmi antarwarga.
Perdebatan
Meski dimaksudkan sebagai hiburan, langkah tersebut akhirnya harus memunculkan beragam tanggapan.
Sebagian warga menilai konsep itu sebagai inovasi yang mampu mencairkan suasana dan mempererat kebersamaan setelah mengikuti rangkaian ibadah yang cukup panjang.
Namun, sebagian warga lainnya menyampaikan keberatan. Mereka menilai kehadiran biduan dalam peringatan Isra Miraj adalah kurang selaras dengan nilai religius dan kesakralan momentum keagamaan.
Kekhawatiran akan berkurangnya kekhusyukan menjadi alasan utama penolakan.
Sejumlah tokoh agama setempat mengingatkan pentingnya menjaga esensi Isra Miraj sebagai momentum penguatan iman dan refleksi atas perintah salat lima waktu.
Sementara dalam menanggapi perdebatan itu, pemerintah desa menyatakan akan melakukan evaluasi agar peringatan hari besar keagamaan ke depan dan seterusnya tetap berjalan tertib, kondusif, dan sejalan dengan norma agama serta nilai budaya masyarakat Banyuwangi.