Finnews.id – Perayaan Natal di Asia diwarnai tradisi unik, mulai dari menyantap ayam goreng Kentucky Fried Chicken (KFC) di Jepang hingga Sinterklas yang mengantar hadiah menggunakan kereta kuda di India.
Keunikan Natal di Asia: Tradisi Lokal Menggantikan Standar Barat
Meskipun Natal identik dengan perayaan Barat, faktanya musim liburan di seluruh dunia dibentuk oleh norma dan karakter budaya lokal. Di seluruh Asia, makanan dan keluarga tetap memegang peran sentral dalam perayaan.
Mulai dari hidangan ayam goreng cepat saji hingga serangkaian Misa selama sembilan hari.
Berikut adalah beberapa tradisi Natal paling menarik yang terekam di berbagai negara Asia.
1. Filipina: Musim Natal Terlama di Dunia
Filipina, sebagai negara Katolik terbesar di Asia, memegang rekor untuk musim Natal terlama di dunia. Penghitungan mundur Natal secara resmi dimulai sejak 1 September, terus berlangsung melalui “Ber Months” hingga Pesta Tiga Raja pada awal Januari.
Masyarakat Filipina berpartisipasi dalam Simbang Gabi, yaitu rangkaian Misa selama sembilan hari, yang memuncak pada Misa de Gallo di Malam Natal. Setelah misa, mereka menikmati perayaan besar yang dikenal sebagai Noche Buena.
Hidangan khas yang disajikan meliputi lechon (babi panggang) dan bibingka (kue beras yang diolah dengan santan). Dekorasi paling populer yang digunakan adalah parols, lampion berbentuk bintang warna-warni yang menggantung pada tiang bambu.
2. Jepang: Ayam KFC, Kue Krim, dan Hari Valentine Kedua
Jepang memang menikmati cuaca musim dingin dan salju, tetapi tradisi Barat berhenti sampai di situ. Alih-alih menyantap kalkun panggang, keluarga Jepang secara luas memesan dan menyantap satu ember besar Kentucky Fried Chicken (KFC). Kebiasaan ini merupakan hasil dari salah satu kampanye pemasaran paling efektif di dunia yang diluncurkan sejak tahun 1970-an.
Untuk makanan penutup, puding Natal yang padat digantikan oleh Christmas Cake (atau kurisumasu keki), yaitu kue bolu manis ringan yang dihiasi krim kocok dan stroberi. Pertukaran hadiah umumnya dilakukan pada Malam Natal dan seringkali hanya terjadi di antara pasangan, sebab Malam Natal di Jepang dianggap setara dengan Hari Valentine versi Jepang.
3. Korea Selatan: Gat dan Lampion Perdamaian
Hampir sepertiga penduduk Korea Selatan mengidentifikasi diri sebagai penganut Kristen. Dengan cuaca dingin dan salju, mereka sering mengalami Natal Putih. Natal ditetapkan sebagai hari libur nasional, hari di mana masyarakat merayakan bersama teman dan keluarga.
Hidangan Natal Barat telah digantikan oleh makanan khas Korea, seperti bulgogi (daging sapi), mie ubi jalar japchae, dan tentunya kimchi. Sinterklas di sana dikenal sebagai Santa Harabeoji (Kakek Santa), yang kerap mengenakan jubah hijau atau biru, dan kadang-kadang terlihat memakai gat, topi tinggi yang dahulu dikenakan bangsawan Korea kekaisaran.
Selain itu, Kuil Buddha Jogyesa di Seoul memasang lampion berbentuk pohon Natal sebagai simbol perdamaian dan kerukunan antaragama.
4. India: Bintang Mengapung dan Kereta Kuda
Perayaan di India selalu dikenal berwarna-warni dan bersemangat, dan Natal tidak menjadi pengecualian. Meskipun perayaan terjadi di seluruh negeri, perayaan paling meriah terdapat di wilayah dengan populasi Katolik yang signifikan, seperti Goa.
Gereja, pasar, dan rumah-rumah di sana dihiasi dengan lampion kertas berbentuk bintang raksasa yang digantung di antara rumah-rumah, menciptakan pemandangan bintang-bintang yang seolah mengapung di atas jalanan.
Makan malam Natal paling umum disantap pada Malam Natal. Perjamuan mewah ini biasanya meliputi biryani, kari daging, dan koleksi makanan penutup serta kue-kue Goan yang disebut kuswar. Setelah makan malam, umat Kristiani setempat menghadiri misa tengah malam di gereja-gereja yang telah didekorasi dengan poinsettia dan lilin.
Sinterklas, atau yang lebih dikenal sebagai Christmas Baba di India, mengantarkan hadiahnya dari kereta yang ditarik kuda, bukan dengan kereta luncur rusa.
5. Tiongkok Daratan: Apel Perdamaian dan Saksofon Sinterklas
Di Tiongkok Daratan, Natal tidak dirayakan sebagai hari libur keagamaan maupun hari libur nasional. Hari raya ini diadaptasi secara unik, berfungsi sebagai hari perayaan bagi pasangan atau teman untuk berkumpul. Terdapat penggambaran Sinterklas yang tidak biasa, di mana ia sering terlihat memegang saksofon.
Tradisi pemberian buah apel pada Malam Natal menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir karena permainan kata (pun).
Tradisi pemberian buah apel pada Malam Natal menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir karena adanya persamaan bunyi antara kata apel dalam bahasa Tiongkok dengan kata untuk ‘damai’ yang terdapat dalam istilah Malam Natal. Malam Natal pengucapan Bahasa Mandari Ping’an ye atau Malam Damai. Apel-apel tersebut sering dibungkus dengan kemasan mewah sebelum diberikan kepada orang terkasih.