finnews.id – Isu ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) kembali jadi perbincangan di media sosial.
Dokter ahli gizi Jakarta, Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa mengatakan, kasus dugaan ijazah palsu Jokowi ini seharusnya dibawa ke ranah hukum Internasional.
Sebab menurutnya, ini bukan saja soal pemalsuan, tapi ini skandal terbesar di Indonesia.
“Sudah waktunya soal Ijazah Palsu dan Skripsi Palsu dibawa ke ranah Internasional. Karena ini bukan sekedar soal Pemalsuan yang dilakukan Koruptor Kelas Dunia versi OCCRP. Ini adalah Skandal Politik Terbesar di Indonesia” kata Dokter Tifa lewan akun X, dikutip Jumat 4 April 2025.
Menurutnya, jika kasus ini dibawa ke ranah hukum internasional, maka pakar forensic internasional juga bisa dilibatkan.
“Mungkin bisa melibatkan Pakar Digital Forensic Internasional seperti INTERPOL Digital Forensic, National Center for Media Forensic (NCMF), Berkeley Digital Forensic US” kata dia.
Sebelumnya, mantan dosen Universitas Mataram Rismon Hasiholan Sianipar juha mengungkapkan dugaan ijazah palsu Jokowi. Ia menyangsikan keaslian ijazah dan skripsi Jokowi sebagai lulusan UGM.
Rismon menyampaikan argumen bahwa lembar pengesahan dan sampul skripsi Jokowi menggunakan font Times New Roman yang menurutnya belum ada di era tahun 1980-an hingga 1990-an. Jokowi diketahui lulus dari Fakultas Kehutanan UGM pada 1985.
Menanggapi itu, Jokowi merespon dan mengatakan bahwa itu fitnah murahan yang diulang-ulang.
“Itu fitnah murahan yang diulang-ulang terus,” ucap Jokowi ketika ditemui wartawan di kediamannya di Gang Kutai I Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Kamis, 27 Maret 2025.
Terkait mencuatnya kembali isu ijazahnya palsu, Jokowi menyebut tidak apa-apa. Ia mengaku tidak merasa bosan dengan munculnya isu tersebut.
“Ya enggak apa-apa. Saya enggak bosan sih,” ucap dia.
Jokowi meminta pihak yang menuduh ijazah palsu agar membuktikan tuduhan itu.
“Sekali lagi yang mendalilkan (ijazah palsu) itu yang membuktikan. Jangan saya yang disuruh suruh membuktikan. Yang mendalilkan itu yang harus membuktikan,” kata dia. **