Fifi gila balet. Gila beneran. Melebihi gila mamanyi.

“Kalau kegilaan mama terhadap balet saya nilai 100, berapa kegilaan Anda?” tanya saya ke Fifi.

“150,” jawab Fifi. “Yes. Sure,” tambahnyi.

Rasanya saya setuju dengan itu. Anak lebih hebat dari orang tua. Fifi membuktikan itu dengan membuat Marlupi Dance Academy tidak lagi hanya jago kandang. Fifi berani “menantang” Jakarta. Dia melihat Jakarta adalah medan tempur yang lebih besar –yang bila berhasil hasilnya luar biasa.

Fifi berhasil. Tidak mudah. Jakarta tidak kenal Marlupi, apalagi Fifi. Di Jakarta sudah ada buah bibir yang lebih internasional: Farida. Anda sudah tahu siapa Farida –lebih tahu lagi setelah disebut nama lengkapnyi: Farida Syuman.

Farida adalah pebalet pertama Indonesia yang bisa sekolah sampai di ”Harvard”-nya balet: Akademi Balet Bolshoi di Rusia –Uni Soviet saat itu.

Waktu di Rusia itulah Farida kenal dengan mahasiswa Indonesia yang belajar perfilman di sana: Syumanjaya. Mereka pun kawin. Punya dua anak. Cerai. Dua-duanya tetap jadi legenda: Farida di balet, Syumanjaya di penyutradaraan film. Dua-duanya sudah meninggal dunia.

Marlupi pernah belajar balet ke Farida. Sebentar. Lalu belajar ke Singapura, Hong Kong, Swiss, dan Kanada. Fifi disekolahkan balet sampai ”Harvard”-nya balet yang lain: London.

Di tangan generasi kedua, akademi Marlupi berkembang pesat. Kini sudah ada ratusan cabang akademi di seluruh Indonesia –terbanyak di Jakarta. Muridnya tidak hanya dari Indonesia. Juga dari Singapura, Malaysia, dan beberapa negara lainnya.

“Red Balerina” julukan untuk balerina dari Marlupi, sangat ditakuti oleh peserta lomba balet di Asia. Sudah10 Red Balerina dilahirkan Marlupi yang levelnya sudah dunia. Tiga di antaranya kini sedang dalam puncaknya.

Salah satu dari tiga itu putri Fifi sendiri. Sayang saat sedang tampil di Miami, Amerika, dia cedera punggung. Harus berhenti balet. Untungnya dia punya bakat lain seperti bakat yang dimiliki oma dan mamanyi: bakat mengajar. Tidak semua balerina hebat punya kemampuan mengajar yang baik.