“Iya. Saya berkumis. Tipis. Dan berkacamata,” jawab Jokowi.
Jaksa lantas menunjukkan foto-foto masa muda Jokowi: semua berkumis dan berkacamata. Jokowi membenarkan bahwa itu foto dirinya.
“Yang ini siapa?” tanya jaksa sambil menunjukkan foto bersama wanita.
“Itu istri saya. Statusnya masih calon istri saat itu,” jawab Jokowi.
Rupanya setelah istirahat makan siang siaran langsung dari dalam ruang sidang dilarang. Walhasil ketika sidang dilanjutkan dan giliran pengacara/terdakwa mengajukan pertanyaan tidak ada lagi siaran langsung.
Udara bulan November di luar persidangan sangat panas. Cuaca sangat menyiksa untuk seluruh Jawa. Sidang kemarin berlangsung sampai sore. Sepanjang itu pula para pendukung Jokowi kepanasan.
Di bidang politik cuaca November juga sangat panas di Jakarta. Ribuan Marinir didatangkan ke Jakarta. Pertama, ada Jokowi dan ribuan pendukungnya di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Kedua penyadapan telepon Presiden Prabowo berkembang ke tuduhan makar. Artinya: ada upaya untuk melumpuhkan Presiden Prabowo.
Bisa jadi pencarian dalang penyadapan itu akan membawa implikasi sangat luas.
Maka di tengah heboh berita penyadapan, datangnya ribuan massa pendukung itu seperti dukungan moral yang nyata untuk Jokowi –pun dalam menghadapi kemungkinan perkara penyadapan itu menyenggol namanya.
Sejarah baru –mantan presiden hadir di pengadilan– sudah tertoreh lancar. Pengerahan massa PSI juga sudah selesai. Satu ketegangan sudah lewat. Dengan selamat. Masih satu ketegangan lagi di depan: penyadapan dengan motif makar itu.
Kita masih menunggu: rencana makarnya seperti apa. Dilacakkah lokasi presiden dan begitu memungkinkan dibunuh? Atau presiden dibuat tidak bisa menjalankan tugas hingga terpaksa menyerahkan kekuasaan ke wakil? Atau memaksa presiden turun karena dibongkar hasil sadapan yang menggambarkan telah terjadi pelanggaran sumpah atau pelanggaran konstitusi?
Kata “makar” memang terlalu luas. Bisa saja bukan salah satu dari tiga kemungkinan itu.
Banyaknya penambahan tentara di Jakarta memang pertanda-pertanda ada yang perlu dihadapi. (Dahlan Iskan)