Jokowi pakai baju batik cokelat muda dan berkopiah. Gaya jalannya, raut wajahnya, senyumnya yang dingin mengesankan seperti gaya saat masih jadi penguasa.
Di sidang itulah untuk kali pertama Jokowi memperlihatkan ijazah aslinya dari fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada. Pendukungnya spontan berhore sampai hakim memberikan peringatan.
Jokowi rupanya lupa kalau ia sedang di persidangan –tidak boleh mengelukan pengunjung sidang. Setelah menunjukkan ijazah ke hakim, Jokowi memang balik badan, mengangkat kedua tangannya yang membentangkan ijazah, menunjukkan ijazah itu ke pengunjung –disambut meriah oleh pengunjung.
Saat Jokowi menunjukkan ijazah, terdakwa Roy Suryo berada di dekat Jokowi. Roy ikut menghadap ke pengunjung. Ia tertawa lebar bernada sinis. Seolah Roy mendapat durian runtuh: ijazah asli yang ditunggu akhirnya dibawa dan ditunjukkan ke persidangan. “Palsu,” celetuk Suryo lantas tertawa lagi.
Roy –juga masyarakat luas– sudah lama minta agar Jokowi mau memperlihatkan ijazah aslinya. Biar heboh ijazah segera selesai. Jokowi tidak pernah mau menunjukkannya. Baru di pengadilan ini ijazah itu ditunjukkan.
Tapi Roy Suryo seperti tidak melihat kebenaran. Ia justru kelihatan seperti menyimpan ”granat” –untuk diledakkan pada saatnya. Yakni saat diberi kesempatan bertanya.
Ijazah yang ditunjukkan di pengadilan itu, kata Roy, berbeda dengan yang pernah ditunjukkan polisi. Juga berbeda dengan yang ditunjukkan Jokowi ke beberapa wartawan di kediamannya. Maka pengacara Roy minta agar ijazah itu diperiksa di lab forensik independen. Jokowi keberatan.
Sepanjang pagi kemarin kesempatan bertanya memang hanya diberikan ke tim jaksa. Jokowi menjawab sangat lancar dan dingin –meski nadanya Anda sudah tahu: lirih dan pelan.
Jokowi rinci menceritakan mulai dari proses mendaftar, kuliah, wisuda, dan seterusnya. Termasuk kuliah kerja nyata selama tiga bulan di desa.
“Apakah ketika muda, saksi punya kumis dan pakai kacamata?” tanya jaksa sambil memperlihatkan foto berkumis di ijazahnya.