Dari halaman stasiun, Kota Baru itu belum tampak. Stasiun itu sendiri sudah dikelilingi banyak bangunan baru. Sudah bukan hanya stasiun. Sudah seperti kota kecil yang baru, modern dan bersih.

“Peta digital ini saya matikan saja ya?” tanya si taksi.

“Terserah”.

—

Ia hanya mematikan peta. Tidak mematikan argometer. Berarti ongkosnya nanti berdasar argometer. Kami tidak satu kata pun membicarakan bagaimana pembayarannya.

Pembangunan kota Xiong An ini diputuskan tahun 2017. Sampai sekarang masih jauh dari jadi. Tahap satunya sudah dihuni: Hotel-hotel, convention center, pertokoan, restoran, satu kantor pemerintah pusat. Sudah seperti kota biasa. Lebih tertata. Lebih bertaman. Lebih berpohon. Ramai. Sehari sebelumnya ada penutupan acara besar yang diikuti 90 negara di situ.

—

Di bagian lain Xiong An sedang dibangun kota modern. Dengan tower-tower tinggi. Beberapa BUMN besar punya gedung baru di situ: perusahaan listrik, kimia, dan keuangan. Mereka juga sudah mulai berkantor di situ.

Yang sedang dibangun adalah kampus empat universitas besar: Universitas Transportasi, Universitas Geologi, Universitas Sain Teknologi, dan Universitas Kehutanan/Lingkungan Hidup.

Nama resminya:

1). Beijing Jiaotong University (北京交通大学)

Universitas yang kuat di bidang transportasi, teknik perkeretaapian, teknik sipil, dan teknologi informasi.

2) University of Science and Technology Beijing (北京科技大学).

Terkenal dalam bidang metalurgi, pertambangan, ilmu material, dan teknologi industri.

3). Beijing Forestry University (北京林业大学)

Berfokus pada kehutanan, lingkungan hidup, ekologi, dan pengelolaan sumber daya alam.

4). China University of Geosciences (Beijing) (中国地质大学(北京))

Mengkhususkan diri pada geologi, eksplorasi mineral, sumber daya bumi, dan ilmu kebumian.

—

Selebihnya masih banyak yang kosong. Atau sedang di bangun. Yang jelas kota baru ini kalah cepat dibanding IKN yang idenya datang lebih belakangan.

Xiong An memang ditargetkan baru jadi tahun 2035. Bahkan dianggap selesai yang sebenarnya di tahun 2050. IKN Tiongkok dibangun tidak kesusu –meski uang mereka berlebih-lebih. (Dahlan Iskan)