Panasnya kursi itu juga lantaran begitu banyak yang ingin memanfaatkan PLN. Mereka lupa bermain di PLN itu sama dengan main api: misalnya byar-pet di Jawa dan Sumatra belum lama ini. Korbannya rakyat. Korban lainnya: perekonomian negara.
PLN sebenarnya tahu apa penyebabnya, tapi takut membicarakannya: kelangkaan pasok batu bara untuk kebutuhan dalam negeri sendiri.
Minggu lalu terjadi lagi yang lebih fatal-jenderal: black out listrik di seluruh Batam. Malu. Mati lampu di depan hidung Singapura yang bermandi cahaya.
Untung tidak ada yang bilang itu sabotase yang dilakukan antek asing sebagai balasan atas kiriman asap dari kebakaran hutan di Indonesia.
Anda sudah tahu: listrik di Batam sebenarnya bukan urusan langsung PLN. Itu urusan PT PLN Batam. Itu anak perusahaan PLN khusus membawahi Batam dan Bintan. Punya direksi sendiri. Jadi yang layak diganti pertama-tama sebenarnya Dirut PT PLN Batam.
Tapi untuk menggantinya perlu RUPS PT PLN Batam. Yang harus berinisiatif melaksanakan adalah PLN Pusat sebagai pemegang saham mayoritas. Rupanya belum lagi dirut PLN memutuskan mengganti dirut PT PLN Batam sudah lebih dulu diganti.
Kenapa ada PT PLN Batam?
Zaman dulu memang ada ide agar tiap satu pulau berdiri PT PLN sendiri. Ada direksinya sendiri. Agar kemampuan memikirkan listrik di satu pulau bisa lebih fokus. Tidak lagi menunggu keputusan PLN Pusat.
“Satu PLN” untuk seluruh Indonesia memang terlalu besar. Apalagi Indonesia negara kepulauan: tidak bisa punya jaringan listrik yang tersambung secara nasional. Tidak bisa seperti Tiongkok atau negara Eropa. Amerika saja, yang satu daratan, perusahaan listriknya banyak.
Anda sudah tahu: di Indonesia kebutuhan setiap pulau berbeda jauh. Di Jawa jaringannya sudah harus 500 kva. Di Sumatera masih 275kva. Kalimatan dan Sulawesi 150 kva. Banyak pulau yang langsung 20 kva.
Pemikiran punya banyak PLN itu rupanya berhenti. Hanya sempat punya dua PLN saja: PT PLN Batam dan PT PLN Tarakan. Belakangan PT Tarakan dianggap terlalu kecil. Dirutnya hanya selevel kepala cabang di PLN. Sekarang PT PLN Tarakan sudah tidak ada. Listrik di sana kembali diurus oleh PLN Cabang Tarakan.