Maka sang ibu tidak sempat melihat anak tunggalnya lulus sarjana. Padahal tidak lama lagi kelulusan itu tiba. Lulusnya cum laude pula.

Sejak ibunya meninggal itulah Andrew selalu mengantongi uang Rp500.000 di sakunya. Itulah uang terakhir yang dimiliki sang ibu. Itulah lambang perjuangan seorang ibu. Punya kebutuhan mendesak apa pun uang Rp500.000 itu tidak boleh diganggu.

Pun selama Andrew mendapat beasiswa S-3 dari negara: yang diingat adalah ibunya. Ia harus jadi doktor. Ia belajar sangat keras. Pembimbingnya mengarahkan Andrew untuk melakukan penelitian terjadinya keretakan pada struktur beton. Andrew dapat dukungan dari para kontraktor-gedung untuk mendapatkan objek penelitian. Tersusunlah disertasi berjudul “Multiresolution Spanial Attention-U-net (Mrsa-u-net): Model segmentasi retak untuk pemantauan kesehatan struktur beton”.

Andrew lulus doktor dengan predikat summa cum laude –dengan saksi uang Rp500.000 tetap menjaga sakunya. Itulah yang ia anggap mewakili kehadiran sang ibu di wisuda doktor komputer ITS-nya.

—

Andrew begitu sulit masuk ITS. Harus lewat D3 dan D4. Kini ia doktor summa cum laude ITS dan menjadi dosen di situ.

“Jimat” uang Rp500.000 itu kelihatnnya juga akan jadi syarat bagi calon pacar atau istri Andrew. Sang calon harus punya komitmen untuk menjaga uang itu agar tetap di situ.

“Kenapa tidak segera menikah?”

“Saya masih punya tanggungan keluarga,” katanya.

“Anda kan anak tunggal. Ayah-ibu sudah tidak ada. Keluarga yang mana lagi?”

“Saya masih harus membantu anak bude. Bude itu yang dulu merawat saya waktu kecil. Saya harus membantu anak bude,” ujar Andrew.

Andrew doktor summa cum laude ITS Surabaya. Hatinya masih tetap hati Ngadirejo. (Dahlan Iskan)