Film ini menampilkan kondisi keamanan Indonesia pasca-G30S/PKI. Selain itu, cerita juga memperlihatkan demonstrasi mahasiswa yang menuntut pembubaran PKI serta proses keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar pada 1966.

Dengan latar perubahan politik yang terjadi setelah 1965, film ini membawa penonton ke periode ketika situasi nasional mengalami pergolakan besar.

4. Puisi Tak Terkuburkan (2000)

Berbeda dari film yang berfokus pada dinamika politik nasional, Puisi Tak Terkuburkan menghadirkan pengalaman personal seseorang yang mengalami penangkapan setelah peristiwa 1965.

Film garapan Garin Nugroho ini mengisahkan pengalaman nyata Ibrahim Kadir, seorang penyair asal Gayo yang ditangkap tanpa peradilan yang jelas dalam operasi pembersihan pasca-G30S/PKI.

Kisah Ibrahim Kadir membuat film ini menyoroti sisi kemanusiaan dari rangkaian peristiwa yang terjadi setelah 1965.

5. Gie (2005)

Gie merupakan film biografi yang disutradarai Riri Riza dan diangkat dari Catatan Seorang Demonstran, kumpulan catatan harian Soe Hok Gie.

Nicholas Saputra memerankan Soe Hok Gie, seorang mahasiswa, aktivis, dan penulis yang menjalani kehidupannya pada era 1960-an.

Film ini turut menghadirkan adegan yang berkaitan dengan peristiwa 1965 dan perubahan politik setelah jatuhnya Soekarno serta munculnya pemerintahan baru. Cerita juga menyinggung pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh komunis.

Dengan pendekatan biografi, Gie mempertemukan kehidupan personal tokoh utamanya dengan perubahan politik Indonesia pada masa tersebut.

6. The Women and the Generals (2010)

The Women and the Generals merupakan dokumenter karya Mayor Wechselmann yang mengangkat isu propaganda Orde Baru.

Film ini berfokus pada rekayasa fitnah terhadap organisasi perempuan Gerwani yang dikaitkan dengan peristiwa di Lubang Buaya.

Melalui pendekatan dokumenter, film tersebut mengkritik narasi propaganda Orde Baru dan membawa pembahasan mengenai Gerwani serta peristiwa 1965 ke dalam sudut pandang yang berbeda.

7. Sang Penari (2011)

Sang Penari karya Ifa Isfansyah mengadaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.