Lewat solar cell itulah sang ayah menemukan bisnis baru. Sebenarnya logika itu tidak ketemu: harga minyak di sana sangat murah. Melimpah. Sedang solar cell masih sangat mahal. Apalagi di tahun-tahun 1980-an.

Tapi sang ayah melihat ceruk dalam yang tidak dilihat orang lain. Di sana minyak mentah itu dialirkan lewat pipa yang panjangnya ribuan kilometer –melalui gurun pasir pula. Jauh dari sumber listrik. Padahal di setiap sambungan pipa memerlukan perawatan khusus. Di setiap sambungan itulah sang ayah membangun listrik tenaga matahari.

Tiba di generasi kedua harga solar cell kian murah. Pun harga baterai. Kalau dilihat dari kacamata tahun 1980-an harga solar cell dan baterai saat ini sama dengan tidak ada harga lagi.

Generasi kedua Gigatons juga melihat mobil listrik mulai lahir di bumi. Itu berarti memerlukan charging station. Gigatons membangunnya di Inggris. Awalnya dianggap gila tapi sekarang neracanya sudah biru.

“Sekarang ini sudah ada 3 juta mobil listrik di Inggris,” katanya.

Ia ingat awal-awal merintis bisnis charging: betapa sulitnya. Betapa lambat perkembangan mobil listrik di Inggris. Apalagi setelah subsidi mobil listrik dicabut.

Tapi belakangan perkembangan itu meroket. “Awalnya untuk mencapai lima persen pertama diperlukan waktu 10 tahun. Tapi setelah mencapai lima persen untuk ke-25 persen hanya perlu waktu 5 tahun,” ujar Double H.

Hebatnya, charging milik Gigatons dipasok dari listrik tenaga matahari. Untuk itu Gigatons punya ”perkebunan” solar cell sendiri. Solar farm-nya tidak harus berdekatan dengan stasiun charging-nya. Di sana itu memungkinkan. Transmisi listrik milik swasta. Pemilik bisa menyewakan atau menjual sebagian kapasitasnya untuk orang lain.

Misalnya: transmisi itu bisa mengalirkan listrik 100 MW. Bisa saja pemiliknya menjual ”kapasitas” yang 10 MW ke orang lain. Yang 20 MW lagi ke orang lain lagi, dan seterusnya.

Itu yang tidak bisa terjadi di Indonesia: semua transmisi milik PLN. Tidak ada aturan yang bisa memperbolehkan PLN menjual atau menyewakan kapasitas transmisi. Inilah salah satu faktor yang membuat tenaga surya kurang berkembang di Indonesia. Mau tidak mau produsen listrik tenaga surya harus menjual listrik ke PLN. Ini yang juga tidak mudah.