Lalu muncul gagasan besar Gus Yahya, ketua umum PBNU periode lalu, lewat penguasaan tambang batu bara. Dari sini direncanakan lapisan bawah NU bisa mengakhiri kebiasaan mengajukan proposal minta dana. NU akan punya uang sangat besar dari tambang batu bara.
Kita belum tahu apakah rencana perbaikan ekonomi Nahdliyin lewat tambang batu bara itu akan diteruskan. Rasanya ketua umum PBNU yang baru, Gus Kikin, akan banyak ditanya soal ini.
Bisa jadi soal tambang batu bara akan lebih banyak menyita kesibukan pengurus baru. Kalau usaha batu bara itu berhasil, tidak mustahil NU akan menjadi organisasi keagamaan yang punya sumber dana besar secara terus-menerus.
Tentu tidak boleh terjadi: perhatian besar ke batu bara mengabaikan program besar lainnya. Salah satu caranya adalah: bagi-bagi tugas dan tanggung jawab. Misalnya, serahkan soal pengembangan Islam Nusantara ke ”ahlinya”: KH Said Aqil Siroj. Berikan wewenang dan otoritas penuh pada beliau untuk menjadi penanggung jawab bidang itu.
Demikian juga soal gerakan demokrasi, keadilan dan tegaknya hukum: serahkan ke Gus Rozin dari Pati. Berikan keleluasaan kepada Gus Rozin untuk menjadi pembawa bendera NU di bidang itu. NU, lewat Gus Dur, boleh dibilang pelopor di gerakan demokrasi, persamaan hak, penegakan keadilan, dan pembela masyarakat tertindas. NU diharapkan harus tetap menjadi pembawa bendera di bidang ini. Ketua umum bisa menyerahkan bendera ini ke Gus Rozin yang di muktamar kemarin juga muncul sebagai salah satu calon ketua umum.
Tentu jangan lupa: NU memiliki teknokrat hebat di bidang pendidikan. Yakni Prof Dr Mohammad Nuh. Beliau pernah menjadi menteri pendidikan yang sukses. Beliaulah yang memimpin Muktamar di Lampung dan di Tambakberas.
Pak Nuh mampu mengatur pendidikan Indonesia –harusnya mampu memajukan pendidikan di lingkungan NU. Apalagi Pak Nuh termasuk teknokrat yang percaya bahwa cara pengentasan kemiskinan terbaik adalah lewat pendidikan.
Tentu bukan sembarang pendidikan. Yakni pendidikan yang bisa membawa kemajuan. NU menghadapi persoalan besar di bidang pendidikan: jumlah santri terus-menerus mengalami penurunan. Lembaga-lembaga pendidikan NU tidak bisa tenang-tenang terus.