Maka begitu Kiai Anwar Iskandar berbicara, yang lain tidak ada yang menyanggah. Kiai Anwar Iskandar, 76 tahun, memang berwibawa. Kiai Anwar Iskandar lebih ”bisa” bicara dari kiai lainnya. Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika Kiai Anwar Iskandar makan siang di rumah saya bersama beberapa kiai bintang sembilan Jatim lainnya: beliau yang ambil inisiatif mulai bicara.
Ketika KH Ma’ruf Amin mengundurkan diri sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar-lah yang menjabat ketua MUI yang baru. Waktu itu KH Ma’ruf Amin harus menjadi calon wakil presidennya Jokowi.
Di pemungutan suara AHWA sendiri KH Anwar Iskandar mendapat 326 suara (di nomor urut enam).
Tentang terpilihnya Gus Kikin sebagai ketua umum PBNU tidak ada pro-kontra. Perolehan suara di tingkat penjaringan pun yang terbanyak.
Terbanyak kedua adalah KH Zulfa Mustofa dari Banten. Lalu Nusron Wahid. Gus Rozin dari Pati. Juga ada Gus Salam dari Jombang. Masuk daftar juga Gus Saifullah ”Ipul” Yusuf. Nusron dan Ipul gugur karena tidak boleh rangkap jabatan.
Nama lain yang juga gugur adalah Gus Yusuf dari Jateng: dianggap belum melewati ”masa idah”: belum setahun berhenti dari jabatan di PKB. Tapi, Gus Salam, yang pernah dipecat oleh PBNU dinyatakan lolos syarat administrasi. Mungkin karena Gus Salam melawan karena merasa tidak ada yang salah.
Tentang Gus Kikin, tahun lalu pun saya sudah yakin akan terpilih sebagai ketum PBNU. Waktu itu saya sedang di Beijing. Gus Kikin menghubungi saya. Bicara panjang. Sejak saat itulah saya tahu: beliau siap jadi ketua umum PBNU.
Sebagai pengusaha yang sukses, Gus Kikin akan lebih tahu bagaimana membuat uang dari tambang batu bara milik NU yang dihadiahkan oleh pemerintah Jokowi. Gus Kikin juga lebih sulit dimainkan. Apalagi Gus Kikin adalah kiai penerus di pesantren kakeknya, Tebuireng: KH Hasyim Asy’ari.
Sebagai cucu pendiri NU, tentu ia tahu tambang batu bara tidak boleh justru menghancurkan reputasi NU.
Uang bisa menaikkan reputasi –juga bisa menghancurkannya. (Dahlan Iskan)