Memenangkan akal sehat seperti itulah yang masih sulit dilakukan di lingkungan partai politik di Indonesia. Rakyat sudah mulai muak dengan partai politik tapi belum tahu cara merombaknya.

Kemenangan cara baru pemilihan ketua umum tanfidziyah NU itu sekaligus seperti pertanda “mati angin”-nya KH Miftachul Akhyar di pemilihan rais aam dan “mati angin”-nya Gus Yahya Staquf di posisi perebutan ketua umum.

Tapi di saat penjaringan majelis AHWA ternyata nama KH Miftachul Akhyar masih masuk “sembilan besar”. Perolehan suaranya masih nomor empat –turun dari nomor tiga di Muktamar Lampung lima tahun lalu.

Waktu itu KH Miftachul Akhyar terpilih sebagai rais aam karena yang dapat nomor urut satu dan dua tidak bersedia menjabat rais aam.

Apakah dengan dapat suara di urutan empat KH Miftachul Akhyar masih akan bisa jadi rais aam? Apakah kali ini yang dapat nomor urut di atasnya juga tidak bersedia jadi rais aam?

Tampaknya tidak lagi. Yang memperoleh suara terbanyak di Tambakberas tadi malam adalah KH Nurul Huda Djazuli dari Kediri. Di Muktamar Lampung KH Nurul Huda mendapat suara nomor empat.

KH Nurul Huda tidak mungkin menyatakan menolak amanah itu. Bukan karena ambisius tapi demi penyelamatan NU. Kiai besar Jatim KH Asep Saifuddin Chalim akan sangat marah kalau sampai KH Nurul Huda tidak bersedia menjabat rais aam.

Kalau KH Nurul Huda menjabat rais aam ganti banyak tokoh NU yang “mati angin”. Nurul Huda adalah nama yang paling tidak diharap terpilih oleh para tokoh itu. Gagallah impian banyak tokoh NU yang ingin bisa menyetir seorang rais aam.

KH Nurul Huda adalah kiai yang sangat independen dan kuat dan bersikap. Tidak bisa disetir-setir.

Nomor dua di bawah KH Nurul Huda adalah KH Nuruzzahri Yahya dari Beureun, Aceh. Selisih suaranya sangat tipis. Di urutan ketiga adalah KH Dr Bajaruddin Hs dari Bone, Sulsel. Hebatnya, KH Said Aqil Siradj terpilih di nomor urut delapan. Yang nomor sembilan adalah Abun Bunyamin dari Purwakarta. Masih ada KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir dari Sukorejo Situbondo dan Anwar Manshur Lirboyo Kediri. KH Wildan Salman dari Martapura tergeser dari sembilan besar.