Rasanya Prabowo bisa tepuk jidad kalau tiga-tiganya minta restunya.
Tiga jagoan itulah yang sebenarnya sedang bertempur di dalam selimut. Tiga-tiganya jagoan dalam memenangkan persaingan dalam berbagai muktamar. Cara-cara apa pun bisa di-copy untuk diterapkan di Muktamar ke-35 sekarang ini. Termasuk cara karantina.
Tiga tim dari tiga lokomotif itu sampai punya gerakan “jemput bola”. Mereka saling menjemput peserta muktamar di bandara. Mereka saling menyediakan angkutan gratis. Bukan dibawa ke Jombang tapi ke tempat persinggahan misterius di suatu tempat. Ada yang menyebut mereka itu disekap. Setidaknya dikarantina.
Pokoknya mereka dikumpulkan sampai berhasil diyakinkan untuk mau memilih calon yang diinginkan. Setelah berhasil, peserta itu masih harus dijaga, diawasi, diintip, dibuntuti: jangan sampai berkhianat.
“Sebenarnya yang membuat ruwet muktamar ini ya hanya tiga orang itu. Mereka dalangnya. Dari muktamar ke muktamar,” ujar seorang Gus muda tamatan luar negeri yang bersikap netral.
Demikian juga tokoh NU yang juga kiai terkemuka, putra salah satu pendiri NU, Kiai Asep Saifuddin Chalim. Kiai Asep sampai marah besar melihat praktik perebutan pemilik suara menjelang muktamar ini.
“Sudah sangat memalukan,” ujar pengasuh pesantren Amanatul Ummah di Pacet, Mojokerto yang terkenal itu. Kiai Asep sendiri menginginkan agar kiai besar dari Ploso Kediri sebagai rais am yang baru nanti: KH Nurul Huda Djazuli.
Seorang kiai muda lainnya mencatat “inilah muktamar dengan tingkat intervensi terparah kedua setelah muktamar Cipasung”.
Agak beda.
Intervensi di Cipasung, Tasikmalaya, saat itu karena pemerintahan Presiden Soeharto tidak menginginkan Gus Dur terpilih sebagai ketua umum. Tapi pemilik suara di muktamar Cipasung luar biasa dalam menjaga martabat NU. Mereka tidak berhasil dibeli. Tidak mampu dipecah belah. Tidak takut ditekan. Gus Dur tetap terpilih.
Saya hadir di muktamar Cipasung sebagai direktur utama Bank Nusuma –milik NU. Gus Dur adalah komisaris utama. Kiai Ma’ruf Amin sebagai komisaris. Posisi saya sebagai peninjau.