Selain Sumhaji ada lagi perusuh yang saya ajak ngobrol panjang: Ahmad Reza Ropi. Nama tambahan Ropi itu dari saya: agar saya ingat Reza yang perusuh ini adalah Reza yang menemukan bisnis berkat bertemu direktur rumah sakit.

Sang direktur lagi berpikir bagaimana agar rumah sakit yang ia pimpin tidak didominasi aroma obat. Agar pasien tidak jenuh dengan aroma itu. Sang direktur terkesan setiap lewat dekat toko Roti O hidungnya terasa nyaman: menghirup aroma roti yang harum enak.

Reza langsung seperti dapat ilham: ”Bisa, Pak,” jawabnya.

Dari situlah Reza menciptakan roti aroma kopi. Roti Kopi –Ropi. Jadilah Ropi merk roti buatannya. Kebetulan sang istri adalah cucu pembuat roti di zaman Belanda. Dia masih menyimpan resepnya.

Kini Reza sudah mempunyai 130 outlet Ropi di 130 rumah sakit tipe C. Ia tidak masuk RS kelas atas karena mereka punya cara sendiri menghilangkan aroma obat di rumah sakitnya.

Ke muktamar Reza membawa beberapa contoh Ropi. Ditaruh di depan saya. Dalam sekejap saya sudah tidak sempat merasakan enak-tidaknya. Reza tidak membawa banyak Ropi karena roti resmi muktamar ini adalah Dea (Disway 26 Oktober 2025: Garis Kemampuan).

Begitulah serunya. Di muktamar ini saya pun melihat: waktu kosong lebih penting dari waktu ada acara. Karena itu acara-acara dibuat singkat-singkat: agar waktu kosong lebih banyak. Saya lihat mereka aktif saling networking di waktu kosong. Tidak ada yang hanya rebahan. (Dahlan Iskan)